Kota kecil yang berada di pesisir utara pulau Jawa ini memiliki dinamika yang cukup panjang. Sekarang, Juwana menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Pati. Perannya sebagai kota pelabuhan setidaknya mulai tercatat sejak abad 16 M. Perkembangan Juwana tidak dapat dipisahkan dari peran Pelabuhan Juwana yang kemudian memicu perkembangan Kota Juwana awal. Kota Juwana awal berkembang di sepanjang Sungai Juwana sehingga membentuk pemukiman linear yang mengikuti alur Sungai Juwana (Priyomarsono dkk, 2020: 48). Hal ini dibuktikan dengan adanya pemukiman-pemukiman di sepanjang Sungai Juwana yang didominasi oleh rumah-rumah etnis Tionghoa meskipun sekarang tinggal hanya beberapa unit saja. Ada yang hancur dimakan usia, juga ada yang memang sudah diganti dengan bangunan baru dengan gaya modern. Toponim Bendar yang diasosiasikan dengan kata “bandar” turut menjadi salah satu bukti eksistensi Pelabuhan Juwana sebagai penyokong yang membuat hubungan pesisir dengan pedalaman menjadi lancar.
2020

Candi Bocok secara administratif terletak di Desa Pondok Agung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Candi ini terletak di ketinggian 437 Mdpl dan tidak jauh dari jalan raya Malang-Kediri. Candi Bocok berada di daerah pegunungan antara Pegunungan Arjuna di sebelah utara dan Pegunungan Kelud di sebelah selatan. Candi Bocok memiliki nilai historis yang cukup penting mengingat letaknya yang berada di jalur antara Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Kadiri pada abad ke-13 M. Candi ini juga tidak berdiri sendiri, akan tetapi terdapat beberapa situs lain yang diduga berkaitan di kawasan perbatasan antara Kediri dan Malang.

(Sumber: ksmtour.com).
Ranu Grati dapat dikatakan sebagai salah satu objek wisata andalan yang dimiliki oleh Kabupaten Pasuruan. Danau yang memiliki luas 107 hektare ini terletak di antara 3 desa, yakni Desa Sumberdawesari, Desa Ranuklindungan, dan Desa Gratitunon, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Ranu Grati merupakan danau yang terbentuk akibat adanya aktivitas vulkanik. Hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang menyerupai corong besar dengan dasar yang dalam serta kandungan sedimen mineral di dalam airnya.
Nah, selain memiliki potensi yang besar sebagai objek pariwisata, kawasan Ranu Grati juga menyimpan potensi lain yang sangat layak untuk dikembangkan, yakni sebagai sumber ilmu pengetahuan, khususnya Arkeologi. Hal ini didasarkan pada banyaknya tinggalan arkeologi yang ditemukan di kawasan Ranu Grati.
“Kita mengalami proses evolusi yang panjang mulai dari ditemukannya artefak batu sekitar 2,6 juta tahun yang lalu hingga artefak logam yang ditemukan sekitar 10 ribu tahun yang lalu. Temuan logam tersebut membuat sebuah peradaban baru bagi manusia. Apabila tidak ditemukannya logam mungkin kita masih berada di masa prasejarah”, tutur Harry Octavianus Sofian S.S., M.Sc sebagai pembicara dalam diskusi mengenai konservasi artefak logam yang didakan divisi P3M HIMA UGM, pada Hari Minggu 30 Agustus 2020.

(Sumber: kajanglako.com).
Dra. Satyawati Suleiman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Leman atau Ibu Yati merupakan seorang arkeolog wanita pertama di Indonesia. Meskipun seorang arkeolog wanita, akan tetapi beliau tidak bisa dianggap remeh begitu saja oleh peneliti-peneliti lainnya. Hal tersebut dibuktikan dengan jasa Ibu Leman yang dikenal sebagai ahli ikonografi oleh peneliti lain. Karya yang paling terkenal dari beliau adalah buku yang berjudul Monuments of Ancient Indonesia. Buku ini diterbitkan di Jakarta pada tahun 1976 oleh Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Indonesia.

Stasiun Kudus atau yang dikenal juga dengan nama Stasiun Wergu merupakan stasiun kereta api non-aktif kelas besar yang berada di Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Stasiun ini termasuk dalam Wilayah Aset IV Semarang. Terdapat dua periode pembangunan jalur kereta di stasiun ini. Periode yang pertama adalah pembangunan jalur Jurnatan-Juwana, sedangkan yang kedua adalah jalur Kudus-Mayong. Keduanya berada di bawah naungan Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Jalur Demak–Kudus selesai pada tanggal 15 Maret 1884 dan dilanjutkan menuju Juwana pada tanggal 19 April 1884. Selanjutnya, dibangun jalur cabang menuju Mayong pada tanggal 6 September 1887.