Arsip:

Hindu-Buddha

DUGAAN PRAKTIK KORUPSI DI MASA MATARAM KUNO: ANALISIS MELALUI PRASASTI PALEPANGAN

Oleh : Anastasia Desy Putri Cahyani

Prasasti dijadikan sebagai sumber primer dalam upaya rekonstruksi sejarah. Hal ini dikarenakan prasasti dibuat pada masa peristiwa itu terjadi, sehingga menjadikan prasasti sebuah produk langsung dari zaman yang bersangkutan. Ditulis oleh orang-orang pada masa itu membuat prasasti tidak bercampur dengan interpretasi masa kini. Selain itu, prasasti juga menjadi bukti fisik tentang peradaban maupun peristiwa masa lalu. Oleh karena itu, prasasti dianggap menjadi sumber sejarah yang paling terpercaya dalam rekonstruksi berbagai aspek kehidupan, termasuk sistem ekonomi dan pemerintahan. read more

Jenis-Jenis Hiburan Masa Klasik di Jawa Melalui Data Relief dan Prasasti

Oleh: Refalina Agung Afifah

Masa klasik atau yang sering juga disebut sebagai masa Kerajaan Hindu-Buddha merupakan salah satu periode dalam sejarah Indonesia yang merujuk pada abad ke-4 hingga awal abad ke-16. Dimulainya masa Kerajaan Hindu-Buddha ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, dan berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Munculnya kerajaan-kerajaan yang beragama Hindu dan Buddha merupakan salah satu bentuk dari pengaruh India yang masuk ke area Asia Tenggara kepulauan. read more

Nilai Moral dalam Kisah Angsa dan Kura-kura: Relief Tantri di Petirtaan Candi Penataran

Oleh: Irkam Asroni

Pendahuluan

Candi Penataran yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud tepatnya di Desa Penataran-Blitar, merupakan kompleks candi Hindu-Buddha terbesar di Jawa Timur. Kompleks ini memiliki dua petirtaan (kolam suci). Petirtaan yang lebih besar terletak di luar tembok candi dan terletak agak jauh sedangkan petirtaan yang lebih kecil terletak di sebelah tenggara candi induk dengan dihiasi relief-relief kisah fabel. Relief-relief tersebut menampilkan berbagai cerita binatang dari tradisi Pancatantra-Tantri. Salah satu relief istimewa menggambarkan kisah Tantri Kamandaka, khususnya episode Angsa dan Kura-kura. Pertanyaannya, mengapa kisah rakyat yang tampak menghibur ini diukir pada dinding petirtaan suci, dan nilai moral apakah yang dikandungnya? read more

Konservasi Berbasis Masyarakat terhadap Sisa Batuan Candi di Kompleks Makam Sasanalaya Candi Dusun Candi Karang

 Karya : Sheba Nur Majjid;24/535146/SA/22922; Prodi Arkeologi

ABSTRAK

Wilayah Sleman memiliki banyak temuan klasik yang salah satunya merupakan reruntuhan sisa candi yang berada di Makam Sasanalaya Candi. Situs ini mengalami alih fungsi menjadi makam, yang dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap candi sebagai bangunan kuburan serta pengaruh Islam yang kuat. Munculnya kepercayaan lokal terhadap tokoh spiritual seperti Nyai Champa dan Nyi Ageng Serang menjadikan kawasan ini disakralkan dan digunakan untuk kegiatan keagamaan rutin. Hal ini mendorong bentuk konservasi berbasis adat dan komunitas di dalam masyarakat sendiri. read more

Permasalahan Rencana Pemasangan Cattra Borobudur

Sumber foto: commons.wikimedia.org

Status Candi Borobudur sebagai salah satu World Heritage terancam dicabut oleh UNESCO. Ada banyak perdebatan mengenai rencana pemasangan Cattra pada puncak stupa Candi Borobudur yang dikemukakan oleh Kemenag. Tidak semua masyarakat, terutama para arkeolog, setuju dengan pemasangan cattra. Berdasarkan UU Cagar Budaya, pemasangan cattra tidak memungkinkan untuk dilakukan karena Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya yang telah diakui oleh UNESCO sehingga diperlukan penelitian yang komprehensif jika ingin tetap memasang cattra di Candi Borobudur.

Tular Sudarmadi, seorang Dosen Arkeologi UGM mengungkapkan bahwa Borobudur dijadikan sebagai World Heritage melalui proses yang panjang sehingga kepemilikan borobudur tidak lagi menjadi milik individu atau etnis tertentu, tetapi milik semua bangsa dengan konsekuensi dimiliki oleh semua orang. Setiap orang bebas melakukan kegiatan di Borobudur dan pemanfaatannya diatur oleh pemerintah dan pakar.

Dalam bangunan candi terdapat Caitya yang bentuknya hampir sama dengan stupa. Bedanya caitya berukuran lebih kecil dari stupa dan berfungsi menyimpan hal-hal penting yang berkaitan dengan buddha. Di Indonesia, stupa terdiri dari berbagai macam jenis. Biasanya berbentuk setengah lingkaran yang terdiri dari Prasadha, Anda, Harmika, Yasthi, dan Cattra (opsional). Selain itu, terdapat stupa berupa relief.

Relief cattra pada dinding relief bersifat kontekstual yang melambangkan kesucian dalam agama Hindu dan Buddha. Cattra yang memiliki stupa biasanya stupa tunggal yang kecil, bukan yang berukuran besar/bangunan. Pada umumnya, cattra berbentuk seperti payung, tetapi pada stupa tidak berbentuk payung melainkan berbentuk seperti cakram. Pada relief Borobudur terdapat relief stupa yang kebanyakan tidak bercattra. Jika dilihat dari penemuan di situs Watu Layar, Lasem terdapat relief stupa bercattra. Begitu juga dengan temuan di situs lain seperti Kalimantan Barat, Bali, dan NTB. Stupa bercattra di Indonesia banyak ditemukan berupa relief. Jika dibandingkan dengan candi-candi buddha yang se-zaman dengan Borobudur, seperti Pawon, Mendut, Plaosan, dan lain-lain, stupa pada candi-candi tersebut tidak bercattra sehingga stupa tidak bercattra menjadi ciri khas gaya arsitektur nusantara pada masa itu.

 

Sumber foto: Aditya Revianur

 

Diketahui bahwa batuan yang digunakan oleh Van Erp untuk menyusun cattra Borobudur hanya 32% batu asli dan sisanya menggunakan batuan baru. Saat Cattra buatan dipasang di stupa ternyata tidak tepat dan tidak simetris, sehingga cattra dilepas kembali.

“Dari hasil kajian banyak pihak, pemasangan cattra ditunda, tapi akan ada skenario baru yaitu adaptasi bentuk cattra yang bersifat politis” ujar Niken Wirasanti, Dosen Arkeologi UGM.

Jika pemasangan cattra tetap dilakukan, maka ada perubahan yang signifikan karena Borobudur merupakan suatu kawasan yang sangat luas mencakup Candi Pawon dan Mendut.

Candi Borobudur adalah tempat ibadah berupa mandala yang terdiri dari garbhadatu mandala dan vajradatu mandala. Oleh karena itu, Pengkajian Candi Borobudur juga perlu disesuaikan dengan pengembangan agama buddha pada abad ke-9 masehi, ketika ajaran yang dikembangkan merupakan ajaran mahayana dan tantrayana yang dilakukan melalui filsafat yogacara.

Borobudur masuk ke dalam garis imajiner dengan candi Pawon dan Mendut yang merupakan sebuah ritual perjalanan buddha untuk mencapai tingkatan tertinggi. Jika cattra tiba-tiba dipasang, maka nilai universal akan turun.

Secara arkeologis, pemasangan cattra tidak bisa dilakukan karena data-data yang kurang lengkap. Secara eksternal terdapat keinginan atau imajinasi bahwa cattra bisa dinaikkan. UNESCO tidak mempermasalahkan adaptive reuse, tetapi tetap diperlukan kajian yang jelas dan tepat. Secara konservasi dan keamanan harus mempertimbangkan dengan seksama karena menurut lanskap di sekitar Candi Borobudur rawan akan gempa bumi dan bahkan juga petir sehingga pemasangan harus dipertimbangkan dan dipikirkan kembali mengenai masalah epistemologis, ontologis dan pemaknaan, pengelolaan, serta pemanfaatan Candi Borobudur tersebut.