Arsip:

artikel klasik

Jenis-Jenis Hiburan Masa Klasik di Jawa Melalui Data Relief dan Prasasti

Oleh: Refalina Agung Afifah

Masa klasik atau yang sering juga disebut sebagai masa Kerajaan Hindu-Buddha merupakan salah satu periode dalam sejarah Indonesia yang merujuk pada abad ke-4 hingga awal abad ke-16. Dimulainya masa Kerajaan Hindu-Buddha ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, dan berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Munculnya kerajaan-kerajaan yang beragama Hindu dan Buddha merupakan salah satu bentuk dari pengaruh India yang masuk ke area Asia Tenggara kepulauan. read more

Nilai Moral dalam Kisah Angsa dan Kura-kura: Relief Tantri di Petirtaan Candi Penataran

Oleh: Irkam Asroni

Pendahuluan

Candi Penataran yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud tepatnya di Desa Penataran-Blitar, merupakan kompleks candi Hindu-Buddha terbesar di Jawa Timur. Kompleks ini memiliki dua petirtaan (kolam suci). Petirtaan yang lebih besar terletak di luar tembok candi dan terletak agak jauh sedangkan petirtaan yang lebih kecil terletak di sebelah tenggara candi induk dengan dihiasi relief-relief kisah fabel. Relief-relief tersebut menampilkan berbagai cerita binatang dari tradisi Pancatantra-Tantri. Salah satu relief istimewa menggambarkan kisah Tantri Kamandaka, khususnya episode Angsa dan Kura-kura. Pertanyaannya, mengapa kisah rakyat yang tampak menghibur ini diukir pada dinding petirtaan suci, dan nilai moral apakah yang dikandungnya? read more

Tanjung Tiram: Simpul Strategis Perdagangan dan Budaya di Pesisir Timur Sumatra Utara

Oleh: Galih Nugroho

Tanjung Tiram merupakan kawasan pelabuhan tradisional yang memiliki peran penting dalam sejarah maritim di pesisir timur Sumatra Utara, khususnya dalam konteks jalur perdagangan Selat Malaka. Lokasi ini menjadi penghubung antara daerah pedalaman dengan dunia luar melalui pertukaran komoditas. Hal tersebut menjadikan Tanjung Tiram tidak hanya sebagai simpul perdagangan, tetapi juga titik temu budaya dan agama dari berbagai peradaban Asia.

Pesisir timur Sumatra Utara telah lama dikenal sebagai jalur penting dalam jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara. Salah satu pelabuhan bersejarah di kawasan ini adalah Tanjung Tiram, yang secara geografis terletak di Kabupaten Batubara. Letaknya yang strategis, diapit oleh muara Sungai Kanan dan Sungai Kiri, menjadikannya lokasi ideal bagi aktivitas perdagangan dan pelayaran sejak masa pra-kolonial hingga modern.  read more

ANALISIS SINKRONIK DAN DIAKRONIK TERHADAP CANDI KOTES DAN CANDI WRINGIN BRANJANG SERTA SITUS SEKITAR CANDI DI KECAMATAN GANDUSARI, KABUPATEN BLITAR

Oleh: Fransiskus Asisi Maria Beniyoga Puntoadhi

 

=&0=&

Candi merupakan bangunan suci atau kuil yang berasal dari agama Hindu-Buddha. Candi biasanya dibangun sebagai tempat ibadah, makam, dan upacara keagamaan. Bangunan candi umumnya memiliki arsitektur yang megah, dengan berbagai ornamen ukiran dan relief.

Bentangan pulau Jawa dan Sumatera menjadi lanskap bagi sebaran ratusan struktur candi di Indonesia yang menjadi bukti peninggalan peradaban Hindu-Buddha di masa lampau. Candi-candi ini menyimpan informasi penting mengenai kepercayaan, seni, arsitektur, dan kehidupan sosial masyarakat pada zamannya. Keagungan dan keunikan arsitekturnya menyebabkan beberapa candi menjadi ikon nasional yang mendunia seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Berdasarkan periodisasi gaya arsitektur, candi-candi di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi dua periode: Candi Klasik Tua dan Candi Klasik Muda. Jawa Timur menjadi pusat perkembangan Candi Klasik Muda. Salah satu kompleks Candi Klasik Muda terbesar ialah Candi Panataran yang terletak di Kabupaten Blitar. Selain Candi Panataran, candi tinggalan masa klasik muda adalah candi di Kecamatan Gandusari.

Kecamatan Gandusari merupakan salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kecamatan ini mempunyai dua candi; Candi Kotes dan Candi Wringin Branjang, serta lima situs; Situs Sukosewu, Situs Gadungan, Situs Candi Rambut Monte, Cungkup, dan Cungkup Kami.  Pembahasan dalam tulisan ini akan terbatas pada kajian sinkronik dan diakronik Candi Kotes dan Candi Wringin Branjang serta Situs Sukosewu dan Situs Gadungan.

Dalam konteks ini, analisis sinkronik terhadap candi dan situs di Kecamatan Gandusari berfokus pada struktur dan fungsi candi dan situs tersebut dalam konteks waktu, sedangkan analisis diakronik akan berfokus pada perkembangan serta perubahan candi dan situs dari masa ke masa.

Metode yang digunakan penulis dalam pengumpulan data dan menyusun tulisan ini  ialah observasi dan studi pustaka.

Observasi dilakukan pada tanggal 1 April 2025 pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB.  Penulis menggunakan ponsel sebagai media dokumentasi  dan untuk memastikan keakuratan data dalam proses observasi.

Studi pustaka dilakukan sebagai sumber tambahan dan penguat dari hasil data yang telah dikumpulkan.

=&1=&

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:

=&2=&

Gambar 1: Candi Kotes pada tahun 1911.
Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/

 

Candi Kotes atau Candi Papoh merupakan salah satu candi klasik muda di Kabupaten Blitar, yakni berada di Desa Sukosewu, Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini, maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13—16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu: (1) Gaya Singhasari, (2) Gaya Candi Brahu, (3) Gaya Candi Jago, (4) “Candi Batur”, dan (5) Punden berundak. (Munandar: 2010)

Mengacu pada tulisan tersebut, maka gaya arsitektur candi ini menggunakan gaya arsitektur candi batur.

Gaya arsitektur “Candi Batur” memiliki ciri khas berupa bangunan candi yang hanya terdiri dari satu teras, menyerupai siti inggil atau batur. Saat ini, yang sering tersisa hanyalah struktur teras tersebut dengan tangga di salah satu sisinya. Denahnya bisa berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang. Pada permukaan teras ini biasanya terdapat objek-objek sakral, seperti lingga-yoni, altar persembahan, pedupaan berbentuk candi kecil, atau arca perwujudan tokoh yang telah meninggal (Munandar: 2010).

Bisa dilihat dari gambar 1 dan gambar 2, Candi Kotes hanya terdiri dari satu teras saja sehingga Candi Kotes termasuk salah satu candi yang menggunakan gaya arsitektur “Candi Batur”.

Candi ini terdiri dari dua struktur di mana kedua struktur  ini memiliki angka tahun yang berbeda. Inskripsi pada tangga candi pertama mencatat tahun 1223 Saka (1301 Masehi), sementara inskripsi pada tangga candi kedua menunjukkan tahun 1222 Saka (1300 Masehi). Fakta ini mengungkapkan bahwa struktur candi kedua lebih tua satu tahun dibandingkan struktur pertama.

Dalam tata letak Candi Klasik Muda, halaman belakang dianggap sebagai area paling suci. Dengan demikian, struktur candi kedua yang lebih tua kemungkinan besar merupakan candi induk, meskipun posisinya berada di halaman belakang. Inskripsi tahun tersebut juga mengindikasikan bahwa Candi Kotes dibangun pada masa Kerajaan Majapahit.

Gambar 2: Candi Kotes. (Diambil 1 April 2025).
Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Secara sinkronik, Candi Kotes pada masa klasik digunakan sebagai tempat ibadah. Hal ini dibuktikan dengan adanya altar pemujaan di candi tersebut. Dilihat pada gambar 1, terdapat arca ganesha di candi ini sehingga dapat dipastikan bahwa masyarakat yang dahulu memuja dewa ganesha ketika candi ini masih digunakan. Dari temuan arca ganesha tersebut, dapat dipastikan bahwa candi ini merupakan candi hindu.

Secara diakronik, Candi Kotes telah mengalami perubahan makna dari masa ke masa. Di masa klasik, candi ini digunakan dan difungsikan sebagai tempat ibadah. Hal ini bisa dilihat pada gambar 1 di mana terdapat arca ganesha di candi tersebut. Pada masa sekarang, Candi Kotes difungsikan sebagai sarana rekreasi dan edukasi, Hal ini bisa dilihat pada gambar 2 di mana pada sisi belakang dari gambar dapat terlihat bentuk Candi Kotes yang telah berubah serta terdapat penunjuk besi di halaman depan.

=&3=&

 

Gambar 3: Situs Sukosewu (Diambil 1 April 2025).
Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Situs Sukosewu merupakan situs yang tidak jauh dari Candi Kotes, sekitar 350 m jaraknya. Situs ini hanya terdiri dari altar, miniatur, dan kemuncak candi. Tidak ditemukan inskripsi di dekat situs ini sehingga tidak diketahui kapan situs ini mulai dibangun.

Dilihat pada gambar 3, bentuk situs ini tidak jauh berbeda dari Candi Kotes, yang membedakannya ialah bahwa situs ini hanya terdiri dari altar, miniatur, dan kemuncak candi sehingga tidak dapat dipastikan apakah situs ini sebenarnya sama seperti Candi Kotes  atau tidak. Namun, jika melihat bentuk dari miniatur candi ini, dapat dipastikan bahwa kemungkinan besar situs ini merupakan situs yang sama dengan Candi Kotes.

Gambar 4 : Daerah sekitar Situs Sukosewu (Diambil 1 April 2025)
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Secara sinkronik, Situs Sukosewu pada masa klasik berfungsi sebagai tempat ibadah. Bukti keberadaan altar pemujaan menguatkan dugaan ini, didukung pula oleh kemiripan situs dengan Candi Kotes.

Secara diakronik, fungsi Situs Sukosewu mengalami transformasi. Jika dulunya merupakan ruang sakral untuk peribadatan, kini situs ini lebih difungsikan sebagai sarana rekreasi dan tempat istirahat. Lokasinya yang berdekatan dengan persawahan menjadikannya area yang menarik bagi masyarakat untuk bersantai.

=&4=&

 

Gambar 5: Candi Wringin Branjang (Diambil 1 April 2025).
Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Candi Wringin Branjang merupakan candi yang terletak di Desa Gadungan, Kec. Gandusari, Kabupaten Blitar. Candi ini berada di kaki Gunung Kelud dan menghadap ke arah selatan. Candi ini berbentuk seperti rumah dan terdapat ventilasi berbentuk bintang sejumlah dua buah di masing-masing tembok candi. Area dalam candi ini kosong sehingga belum diketahui fungsi dari candi ini. Namun, ada kemungkinan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang upacara.

Secara sinkronik, Candi Wringin Branjang pada masa klasik digunakan sebagai tempat penyimpanan alat ibadah. Hal ini dibuktikan dengan bentuk candi ini yang seperti rumah sehingga menimbulkan intrepetasi bahwa candi ini digunakan sebagai tempat penyimpanan alat ibadah.

Gambar 6: Lokasi Candi Wringin Branjang terhadap Gunung Kelud.
Sumber: Gmaps (Diakses 3 April 2025).

Secara diakronik, Candi Wringin Branjang telah mengalami perubahan makna dari masa ke masa. Di masa klasik, candi ini kemungkinan digunakan dan difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat ibadah. Hal ini bisa dilihat pada gambar 5 di mana bentuk candi ini yang seperti rumah.  Pada masa sekarang, Candi Wringin Branjang difungsikan sebagai tempat rekreasi dan edukasi, Hal ini bisa dilihat pada gambar 6, di mana lokasi candi berada di salah satu jalur pendakian Gunung Kelud. Namun, candi ini juga difungsikan sebagai tempat doa dikarenakan saat penulis berkunjung, di dalam candi terdapat dupa dan sesajen.

=&5=&

Gambar 7: Dokumentasi di Situs Gadungan (Di ambil 1 April 2025)
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Situs Gadungan ialah situs yang berada 300m dari Candi Wringin Branjang. Situs ini berada di Desa Sukomulyo, Gadungan, Kec. Gandusari, Kabupaten Blitar. Seperti yang terlihat pada gambar, situs ini terdiri dari bagian-bagian candi yang tidak tersusun seperti kemuncak candi dan batu-batu penyusun candi.

Saat mengunjungi Situs Gadungan, ditemukan yoni dan reruntuhan mirip altar. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa situs ini kemungkinan merupakan satu kesatuan dengan Candi Wringin Branjang dan berpotensi menjadi candi induk dari kompleks tersebut.

Keberadaan yoni di situs ini mengindikasikan kuat bahwa Situs Gadungan kemungkinan besar merupakan situs candi bercorak Hindu, mengingat yoni merupakan simbol penting dalam pemujaan Dewa Siwa.

Secara sinkronik, Situs Gadungan pada masa klasik diinterpretasikan sebagai tempat ibadah dan penyembahan terhadap Siwa, terbukti dari temuan yoni dan kemuncak candi.

Gambar 8: Salah satu isi dari gubuk di Situs Gadungan.
Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Secara diakronik, fungsi Situs Gadungan telah mengalami perubahan. Pada masa klasik, situs ini kemungkinan besar berfungsi sebagai tempat ibadah. Namun, pada masa kini, Situs Gadungan memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi dan edukasi. Hal ini dapat dilihat pada gambar 7 di mana lokasinya yang berada di jalur pendakian Gunung Kelud (via Gunung Gedang). Selain itu, situs ini juga masih difungsikan sebagai tempat berdoa, dapat diliihat pada gambar 8 di mana terlihat adanya dupa dan sesajen di Situs Gadungan.

=&6=&

Secara garis besar, candi dan situs di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar saling terikat dan memiliki hubungan satu dengan yang lain. Meski begitu, candi dan situs ini telah mengalami perubahan berdasarkan tinjauan sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik, ada beberapa bagian candi dan situs yang dapat direstorasi.

Secara diakronik, candi dan situs di Kecamatan Gandusari telah mengalami perubahan makna di mana pada masa saat candi dan situs tersebut berdiri dan digunakan, situs dan candi ini berfungsi sebagai tempat ibadah dan pemujaan. Pada masa sekarang, candi dan situs ini digunakan sebagai tempat rekreasi dan edukasi. Meski begitu, temuan sajen dan dupa di Candi Wringin Branjang dan Situs Gadungan dapat memberikan interpretasi bahwa masih ada pemujaan kepada leluhur di Candi Wringin Branjang dan Situs Gadungan.

 

=&7=&

Munandar, A. A. (n.d.). Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke-8 — 15 M. MAJALAH ARKEOLOGI INDONESIA. https://hurahura.wordpress.com/2010/04/19/gaya-arsitektur-candi-di-jawa-abad-ke-8-15-m/. Diakses 2 April 2025.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI. (2022, December 27). Candi Kotes. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpkw11/candi-kotes/. Diakses 2 April 2025

Hardyta, Galy. Candi Kotes Blitar, Peninggalan dari Periode Awal Kerajaan Majapahit. travellersblitar.com. https://travellersblitar.com/candi-kotes/ . diakses pada 3 April 2025

KEAJAIBAN DALAM SEJUMPUT TANAH LIAT: SEJARAH KERAMIK DINASTI MING DAN PORSELENNYA YANG POPULER

Oleh : Stefani Adelia Tiurma Mukti

 

Gambar 1. Keramik dari Masa Dinasti Ming Tiongkok
(https://nationalgeographic.grid.id/amp/133943393/porselen-dinasti-ming-pendongkrak-perekonomian-kekaisaran-tiongkok)

Keramik adalah salah satu bentuk artefak yang dapat menjadi indikasi suatu peradaban. Saat tanah liat lunak berubah menjadi keramik yang kuat, bahan mentahnya mengalami banyak transformasi, termasuk pemrosesan, pembentukan, pelapisan, dan pembakaran di tungku pembakaran. Keramik diciptakan dalam berbagai konteks budaya dan sosial ekonomi sehingga bentuk, lapisan kaca, dan pola ornamennya sangat bervariasi. Gaya sejarah yang berbeda di Tiongkok dibentuk oleh pembuat tembikar, kaisar, otoritas, dan konsumen keramik. Perjalanan sejarah panjang yang digaungkan dan dilestarikan oleh keramik, serta evolusi jaringan kiln yang mencerminkan fenomena perjumpaan lintas budaya yang terjadi seiring berjalannya waktu, menjadikan keramik begitu mempesona.

Orang Tiongkok Kuno dikenal dengan keterampilannya dalam membuat benda dari tanah liat, sehingga menghasilkan tembikar dan keramik Tiongkok. Tiongkok memiliki salah satu sejarah keramik dan tembikar terpanjang di dunia. Seni keramik dan tembikar Tiongkok adalah yang paling berkembang di dunia sejak zaman prasejarah, tepatnya sejak 5000 SM dan memengaruhi pertumbuhan industri dan seni terkait di banyak negara lain, termasuk Korea, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya. Tembikar Tiongkok Kuno dikoleksi di banyak negara, khususnya di negara-negara Eropa. Kerajinan porselen Tiongkok telah lama dicari dan diapresiasi oleh banyak negara Eropa. Sisa-sisa dan artefak keramik Tiongkok telah ditemukan di seluruh dunia, membuktikan adanya perdagangan keramik Tiongkok yang berkembang pesat di masa lalu. 

=&0=&

Tiongkok mulai memproduksi tembikar sekitar 5000 SM. Diketahui bahwa artefak peralatan makanan dari tanah liat yang ditemukan di daerah antara Huang Ho dan Yangtze diproduksi oleh populasi pertanian. Tembikar Tiongkok prasejarah telah menjadi subjek penelitian ekstensif sejak tahun 1920-an. Banyak budaya tembikar kuno dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut lokasi artefaknya; kelompok-kelompok ini termasuk Tembikar Yang-sha (Provinsi Shanxi), Tembikar Lung-shan (Provinsi Shandong), dan Tembikar Gansu (Provinsi Gansu). 

Pemerintah memberikan perhatian pada keramik selama Dinasti Han. Produksi keramik skala besar yang ditandai dengan kantor-kantor pemerintah dan tempat produksi menjadi ciri khasnya. Timbal dan bahan tambahan digunakan untuk membuat proses kaca dengan api rendah selama periode ini, yang menghasilkan warna yang diinginkan, termasuk hijau, kuning, dan coklat. Tembikar berwarna putih dan biru berasal dari Dinasti Tang. Produksinya maju seiring pergantian dinasti, mencapai puncak kesempurnaan pada Dinasti Ming. 

Di Jingdezhen, industri tembikar kerajaan yang unik didirikan pada awal Dinasti Ming. Sepanjang masa pemerintahan dinasti, pabrik ini memproduksi keramik untuk kalangan istana dan bangsawan. Seniman Ming menemukan berbagai teknik dekorasi dan pewarnaan, seperti jihong, doucai, chenghua, jiaohuang, dan wucai. Pada periode inilah tembikar putih-biru Jingdezhen, atau qinghua, menjadi populer. Kontak komersial Tiongkok dengan Eropa berkembang pesat di bawah pemerintahan Kaisar Wanli (1573–1620), yang memungkinkan ekspor keramik Ming dalam skala besar dari Jingdezhen ke negara-negara Eropa. Selain memproduksi keramik untuk ekspor, pabrik Jingdezhen juga memproduksi barang-barang lokal. 

Industri tembikar yang sempat hancur akibat konflik pada abad Ming, mengalami kebangkitan pada masa Dinasti Qing. Meskipun bangsa Han dijajah oleh Dinasti Manchu, mereka sangat mengagumi budaya Han. Dinasti Manchu memainkan peran penting dalam menjaga dan memajukan seni keramik Tiongkok, termasuk peningkatan kualitas dan produksinya. Puncak produksi keramik Tiongkok terjadi berturut-turut pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi (1661-1722), Yongzheng (1722-1735), dan Qianlong (1735-1796). Selama tiga periode waktu ini, terjadi perkembangan pesat baik dalam seni maupun produksi tembikar. 

Berbagai macam keramik diproduksi, dengan varian yang paling umum dikenal adalah Keramik Putih dan Biru serta Keramik Polikrom. Keramik Dinasti Qing dibedakan berdasarkan warnanya yang cerah, sedangkan subjek lukisannya menjadi semakin rumit. Prestasi penting para seniman selama periode ini mencakup eksplorasi dan pemanfaatan warna glasir yang lebih luas. Selain itu, mereka mencapai keberhasilan dalam mereplikasi metode kaca yang biasa digunakan pada era Song, Yuan, dan Ming. 

=&1=&

Tembikar dan porselen dibuat dari kombinasi tanah dan air, yang bentuknya dibentuk melalui proses pencampuran tanah liat. Proses pembakaran menyebabkan perubahan sifat fisik dan kimia tanah liat. Industri keramik masih menjadi bidang yang dinamis saat ini, yang mencerminkan pencapaian manusia yang signifikan dalam pemanfaatan sumber daya alam secara efisien. Bahan mentah yang digunakan dalam produksi tembikar mudah didapat dan tidak memerlukan suhu tinggi selama proses pembakaran. Akibatnya, sebagian besar peradaban kuno di seluruh dunia dikenal karena menciptakan tembikar yang memiliki ciri khas dan individualistis. Porositas dalam tembikar memungkinkan adanya permeabilitas, bahkan ketika lapisan glasir berbahan bakar suhu rendah diterapkan. Ketika tembikar dipukul, ia menghasilkan suara yang teredam. Tembikar sering digunakan sebagai bahan konstruksi di Tiongkok kuno, atau untuk membuat benda-benda pemakaman dan wadah untuk saus, daging cincang, anggur, dan air. 

Porselen dihasilkan dari jenis tanah liat halus yang disebut kaolin, yang awalnya dilapisi dengan lapisan mengkilap dan selanjutnya mengalami suhu tinggi selama proses pembakaran. Tiongkok, yang terkenal dengan tanah liat kaolinnya yang berlimpah, merupakan salah satu peradaban pertama yang mengungkap teknik pembakaran kaolin. Seiring berjalannya waktu, beberapa jenis, seperti greenware dan whiteware muncul seiring beragam teknik yang berkembang secara progresif seperti penerapan underglaze dan overglaze, cetakan ukiran atau bermotif yang digunakan untuk menciptakan desain yang indah. Saat disatukan, benda-benda ini menghasilkan suara yang jernih. Produk porselen umumnya berfungsi sebagai alat makan, wadah, dan dekorasi pameran. Benda-benda ini juga banyak digunakan dalam ritual dan kegiatan keagamaan. 

Setelah sintering, badan keramik dan glasir tahan terhadap kerusakan seiring waktu. Akibatnya, potongan-potongan dari situs kuno dapat diartikan sebagai catatan dari budaya yang jauh. Peneliti juga dapat menyelidiki prosedur pembuatan keramik di berbagai wilayah dan periode waktu dengan memeriksa tanda-tanda yang tertinggal selama proses pembuatan. 

=&2=&

Porselen adalah salah satu dari beberapa bentuk tembikar. Namun, porselen biasanya dianggap lebih tinggi daripada bahan lain karena permukaannya yang halus, warna putih bersih, dan kualitasnya. Porselen dibakar pada suhu yang sangat tinggi (1280°-1400° C) menggunakan campuran tanah liat dan mineral tertentu. Porselen awalnya dibuat berabad-abad sebelum Dinasti Ming berkuasa. Namun, pada masa Dinasti Ming, porselen mencapai tingkat popularitas baru yang disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan dari Kekaisaran Tiongkok. Keramik akhirnya menjadi bentuk seni Tiongkok yang paling dihormati, bahkan menyaingi lukisan dan kaligrafi. 

Ketika kemakmuran ekonomi meningkat pada masa pemerintahan Ming, orang-orang dengan status ekonomi tinggi mencoba memamerkan posisi baru mereka. Orang-orang tersebut tidak hanya memamerkan artefak seni, tetapi mereka juga menunjukkan pengetahuan luas tentang artefak tersebut. Status sosial seniman yang baik meningkat seiring dengan peningkatan keterampilan mereka. Jingdezhen terkenal sebagai pusat produksi porselen Ming. Selain itu, kota tembikar lainnya, seperti Dehua dan Foshan, menghasilkan karya tembikar berkualitas tinggi. Jingdezhen adalah pusat awal. Produksi tembikar di daerah ini sudah ada sejak Dinasti Han, berkat sumber tanah liat lokal yang melimpah. 

=&3=&

Pada masa awal pemerintahan Ming, porselen biru-putih adalah jenis yang paling populer. Warna biru (oksida kobalt yang berasal dari Asia Tengah, khususnya Iran) dilukis pada badan porselen dan kemudian ditutup dengan yingqing. Warna alternatif namun kurang umum termasuk merah dan oranye, yang dihasilkan dengan memanfaatkan tembaga sebagai pengganti kobalt. Desain awal sering kali terinspirasi oleh permintaan yang kuat dari pembeli Arab. Mereka ingin hiasan porselen menyerupai rangkaian bunga abstrak rumit yang ditemukan pada linen dan permadani tradisional Arab. Sejak abad ke-15, ornamen menjadi lebih terkendali dan elegan. Gambar burung dan bunga sangat populer. Namun, banyak porselen yang tetap berwarna putih, misalnya porselen Ming dari Dehua terkenal dengan warna putih bersihnya. 

 

Gambar 2. Porselen Putih-Biru yang Populer di Era Dinasti Ming Tiongkok
(https://nationalgeographic.grid.id/amp/133943393/porselen-dinasti-ming-pendongkrak-perekonomian-kekaisaran-tiongkok)

 

Seiring berkembangnya Dinasti Ming, dekorasi porselen menjadi semakin rumit. “Sekali lagi, hal ini bisa jadi disebabkan oleh permintaan dari luar, khususnya di Jepang dan Eropa. Porselen menjadi ekspor utama, bersama dengan sutra dan pernis. Bahkan porselen ditukar dengan perak Spanyol yang datang dari Amerika melalui Manila. Adegan multi-warna dengan warna merah, biru, kuning, dan hijau adalah hal yang umum dalam desain abad ke-16. Sosok manusia yang mengenakan jubah mewah biasanya digunakan untuk menghiasi tembikar. Jingdezhen, khususnya, bertahan lebih lama dari Dinasti Ming sebagai produsen keramik terkemuka di dunia memiliki 100.000 karyawan. Penguasaan teknik produksi porselen di Jingdezhen menjadi sangat terspesialisasi. Sepotong porselen harus melewati tangan 70 pengrajin sebelum dianggap selesai. 

Sayangnya, kualitas produksi porselen seringkali menurun seiring dengan bertambahnya kuantitas. Bahkan kobalt yang dibutuhkan untuk hiasan biru tradisional menjadi langka. Pada akhirnya, perdagangan dengan Asia Tengah menurun karena alasan politik. Meskipun porselen bermanfaat bagi perekonomian Kekaisaran Tiongkok, porselen memiliki sisi negatif. Jingdezhen terkenal sebagai “kota guntur dan kilat” karena industri porselennya. Kota ini penuh dengan tempat pembakaran. Tempat pembakaran terus menembakkan api dan asap ke udara. 

=&4=&

 

Gambar 3. Desain Dekorasi Porselen Dinasti Ming Tiongkok
(https://nationalgeographic.grid.id/amp/133943393/porselen-dinasti-ming-pendongkrak-perekonomian-kekaisaran-tiongkok)

 

Bunga, anggur, ombak, gulungan teratai, tanaman merambat, alang-alang, dan buah-buahan semuanya merupakan topik dekorasi yang populer. Pola porselen menggabungkan motif yang biasanya ditemukan pada lukisan dan kain. Lukisan ikan dan burung adalah dekorasi yang populer. Pemandangan alam adalah topik lain yang diadaptasi dari lukisan dan digunakan untuk menghiasi porselen. Makhluk mitos juga merupakan salah satu motif yang populer, khususnya naga, yang melambangkan keberuntungan dalam budaya Tiongkok. Motif populer lainnya adalah ‘Tiga Sahabat Musim Dingin’, yang menampilkan pohon pinus, pohon plum, dan bambu. Seiring majunya Dinasti Ming, pengrajin keramik memilih desain naturalistik. 

Pengrajin Kekaisaran Tiongkok juga diketahui mencantumkan tanggal pemerintahan kekaisaran Ming pada barang-barang mereka. Kebiasaan ini tidak umum terjadi pada tembikar dinasti Tiongkok sebelumnya. Pada abad ke-16, pelukis juga menandatangani keramiknya. Tindakan ini mungkin akan menaikkan harga porselen dan membuat nama artisnya semakin terkenal. Seperti disebutkan sebelumnya, seni asing telah mempengaruhi dekorasi Ming. Perhatikan pola bunga masyarakat Persia dan Arab, serta bunga seni Tibet yang sangat bergaya. Bentuk dan ornamen klasik Tiongkok yang ditemukan pada banyak porselen Ming berdampak signifikan pada pembuat tembikar asing, contohnya di Jepang, Asia Tenggara, Turki, Iran, dan Eropa.

 

=&5=&

Pally Taran, J. (2021). IMPORTANT FINDINGS OF DISTRIBUTION OF CERAMICS IN LAMREH AND UJONG PANCU, ACEH. Indonesian Journal of Islamic History and Culture, 2(2), 309–328. https://doi.org/10.22373/ijihc.v2i2.1334

Rahmayani, A. (2013). Industri Keramik Tradisional Cina Di Sakkok, Singkawang 1933-2000. Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research, 5(2), 217–231. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30959/patanjala.v5i2.133

Rangkuti, N., Pojoh, I., & Harkantiningsih, N. (2008). Buku Panduan Analisis Keramik (III). Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Sundari, E. (2005).

Ragam Hias Keramik BiruPutih dari Cina Masa Dinasti Ming Tahun 1368-1644 Koleksi Museum Nasional read more