Pos oleh :

HIMA UGM

Pesanggrahan Rejowinangun: dari Pesanggrahan Sultan Menjadi Reruntuhan Terbengkalai

Karya : Muhammad Farrel Faisry

Keberadaan pesanggrahan-pesanggrahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak lepas dari berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Untuk menunjang  aktivitas di dalam kerajaan, dibangun berbagai fasilitas seperti masjid, keraton, alun-alun, pasar, benteng, dan pesanggrahan. Pesanggrahan pada masa Kesultanan Yogyakarta merupakan tempat peristirahatan raja beserta kerabatnya. Karena berfungsi sebagai tempat mencari ketenangan dan kenyamanan, pesanggrahan biasanya dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti taman, kolam, pancuran, kebun, ruangan istirahat, dan sebagainya. (Azzah, 2020). read more

Desain Rangka Vespa sebagai Jejak Materi Inklusivitas dalam Otomotif Roda Dua di Indonesia: Sebuah Perspektif Arkeologi Gender

Muhammad Fadel Al Farabi

Program Studi Arkeologi

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

Email: muhammadfadelalfarabi@mail.ugm.ac.id 

1.  PENGANTAR

Pada paruh awal abad ke-20, pesatnya perkembangan Internal Combustion Engine melahirkan lini sepeda motor buatan Barat yang bermesin besar, berat, dan lekat dengan stigma pemberontakan. Kompleksitas dan besarnya tenaga motor masa itu menuntut kekuatan fisik yang membuatnya sangat eksklusif bagi laki-laki. Segregasi gender ini semakin dipertegas oleh desain struktur rangka, terutama letak tangki bensin di tengah, yang sangat menyulitkan perempuan berbusana rok untuk berkendara. Akibat rintangan teknis dan anatomis tersebut, ruang mobilitas otomotif roda dua tertutup bagi perempuan, sehingga mereka lebih memilih mengandalkan sepeda kayuh konvensional atau berjalan kaki. read more

Laporan Kegiatan: Intip Keseruan HIMA di Candi Umbul

Riset Pengembangan Ilmiah

Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

rpi.himaugm@gmail.com

PENDAHULUAN

HILING 2026 atau HIMA Keliling merupakan salah satu program kerja HIMA (Himpunan Mahasiswa Arkeologi) dari divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) yang dilatarbelakangi oleh keinginan antaranggota untuk saling mengenal dan agar setiap divisi dapat melaksanakan program kerjanya masing-masing. HILING 2026 dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 2026 di Candi Umbul yang berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pemilihan Candi Umbul sebagai lokasi HILING 2026 didasari oleh alasan agar para anggota HIMA dapat mengenal situs ini lebih jauh. Selain itu, Candi Umbul juga merupakan situs bersejarah peninggalan era Mataram Kuno yang dikelilingi oleh susunan batu candi dan memiliki nilai budaya yang penting. read more

Alih Fungsi Hutan Mengancam Ruang Budaya Masyarakat Muara Tae

Oleh: Ziana Alfira

Pendahuluan

Masyarakat Muara Tae adalah masyarakat Suku Dayak Benuaq yang tinggal di sekitar Sungai Nayan dan kehidupannya bergantung pada dengan ekosistem alam yang ada di sekitarnya. Pada tahun 2015, masyarakat Muara Tae memperoleh penghargaan dari PBB, yaitu Equatorial Prize, atas perjuangan melawan deforestasi akibat alih fungsi hutan. Adanya alih fungsi, memberikan dampak cukup besar bagi masyarakat Muara Tae. Hal ini dapat terjadi karena kebijakan dinilai terlalu mementingkan nilai komersial tanpa mempertimbangkan kerusakan ekosistem. Bagi masyarakat Muara Tae, hutan menjadi rumah serta ruang budaya yang terbentuk karena kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Hutan menjadi tempat bagi masyarakat untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka. Perilaku ini kemudian menjadi kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun hingga menjadi warisan lokal dan budaya. Oleh karena itu, budaya masyarakat Muara Tae sangat dipengaruhi oleh peranan hutan. read more

Analisis Ikonografis Relief Naratif Sudamala Candi Sukuh

Karya Muhammad Farrel Faisry

Pendahuluan

Artikel ini menyajikan analisis ikonografis terhadap salah satu panel relief naratif yang diletakkan di halaman teras ketiga Candi Sukuh, Berjo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Relief ini penulis pilih karena menampilkan fragmen adegan kisah Sudamala dengan penggambaran tokoh dan latar pemandangan yang menarik. Selain itu, relief ini mengandung makna yang bisa ditelisik secara mendalam terkait dengan kehidupan sosial budaya dan religius masyarakat Jawa pada masa tersebut.  read more

Grebeg Sudiro: Warisan Budaya dan Simbol Harmoni Kota Surakarta

Karya : Kana Mauiza Muhasibi

Kota Surakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa memiliki banyak sekali warisan budaya, baik yang bersifat Benda maupun Takbenda. Warisan budaya tersebut mencakup yang sudah diakui dunia dan nasional maupun yang belum diakui. Salah satu warisan budaya takbenda yang belum diakui dari Kota Surakarta adalah Tradisi Grebeg Sudiro, adanya tradisi ini dipengaruhi oleh sejarah panjang keberadaan etnis Tionghoa di Kota Surakarta. 

Grebeg Sudiro merupakan tradisi tahunan yang namanya diambil dari salah satu kelurahan di Surakarta, yakni Sudiroprajan. Kelurahan Sudiroprajan merupakan wilayah pusat Pecinan di Surakarta yang terletak di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro (ke arah timur dan utara), wilayah tersebut memang dipusatkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk etnis Tionghoa sejak abad ke-19 dikarenakan tingginya imigrasi akibat perdagangan di Surakarta, kebijakan oleh pemerintah kolonial terhadap kelompok etnik tersebut adalah mewajibkan mereka untuk melangsungkan adat istiadat dari tempat asal mereka sehingga kelangsungan budaya akan terus terjaga, keberadaan beberapa orang Jawa di Sudiroprajan sebelum kedatangan etnis Tionghoa menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat interaksi dan percampuran dua kebudayaan (Hakim, 2020, hlm. 4). Interaksi dan hubungan masyarakat serta kebudayaan yang sudah terjalin sejak lama membawa dampak positif bagi wilayah Sudiroprajan, wilayah tersebut menjadi tempat paling aman bagi etnis Tionghoa selama masa krisis 1998, etnis Jawa di sekitar Kelurahan Sudiroprajan menjadi tameng bagi orang-orang Tionghoa yang berlindung di dalam kampung dari kerusuhan di Kota Surakarta (Hakim, 2020, hlm. 5).  read more