Pos oleh :

HIMA UGM

DUGAAN PRAKTIK KORUPSI DI MASA MATARAM KUNO: ANALISIS MELALUI PRASASTI PALEPANGAN

Oleh : Anastasia Desy Putri Cahyani

Prasasti dijadikan sebagai sumber primer dalam upaya rekonstruksi sejarah. Hal ini dikarenakan prasasti dibuat pada masa peristiwa itu terjadi, sehingga menjadikan prasasti sebuah produk langsung dari zaman yang bersangkutan. Ditulis oleh orang-orang pada masa itu membuat prasasti tidak bercampur dengan interpretasi masa kini. Selain itu, prasasti juga menjadi bukti fisik tentang peradaban maupun peristiwa masa lalu. Oleh karena itu, prasasti dianggap menjadi sumber sejarah yang paling terpercaya dalam rekonstruksi berbagai aspek kehidupan, termasuk sistem ekonomi dan pemerintahan. read more

Upacara Adat Saparan Bekakak sebagai Warisan Budaya dari Kraton Ambarketawang

Farizza Nur Styanto

Pendahuluan 

Setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari Jumat minggu kedua di bulan Safar berdasarkan penanggalan Hijriah, pemerintah Kalurahan Ambarketawang yang terletak di Kapanewon Gamping mengadakan rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak. Pada tahun 2025, upacara tersebut dilaksanakan pada tanggal 7 dan 8 Agustus melalui beberapa rangkaian kegiatan. Pada hari pertama diadakan Malam Midodareni, Pentas Macapat, dan Pagelaran Wayang Kulit. Memasuki hari kedua diadakan Karawitan, Upacara Saparan Bekakak, hingga Kirab Saparan Bekakak yang ditutup dengan penyembelihan Bekakak dan dibagikan kepada masyarakat di Gunung Gamping read more

Jenis-Jenis Hiburan Masa Klasik di Jawa Melalui Data Relief dan Prasasti

Oleh: Refalina Agung Afifah

Masa klasik atau yang sering juga disebut sebagai masa Kerajaan Hindu-Buddha merupakan salah satu periode dalam sejarah Indonesia yang merujuk pada abad ke-4 hingga awal abad ke-16. Dimulainya masa Kerajaan Hindu-Buddha ditandai dengan berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, dan berakhir dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Munculnya kerajaan-kerajaan yang beragama Hindu dan Buddha merupakan salah satu bentuk dari pengaruh India yang masuk ke area Asia Tenggara kepulauan. read more

Nilai Moral dalam Kisah Angsa dan Kura-kura: Relief Tantri di Petirtaan Candi Penataran

Oleh: Irkam Asroni

Pendahuluan

Candi Penataran yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud tepatnya di Desa Penataran-Blitar, merupakan kompleks candi Hindu-Buddha terbesar di Jawa Timur. Kompleks ini memiliki dua petirtaan (kolam suci). Petirtaan yang lebih besar terletak di luar tembok candi dan terletak agak jauh sedangkan petirtaan yang lebih kecil terletak di sebelah tenggara candi induk dengan dihiasi relief-relief kisah fabel. Relief-relief tersebut menampilkan berbagai cerita binatang dari tradisi Pancatantra-Tantri. Salah satu relief istimewa menggambarkan kisah Tantri Kamandaka, khususnya episode Angsa dan Kura-kura. Pertanyaannya, mengapa kisah rakyat yang tampak menghibur ini diukir pada dinding petirtaan suci, dan nilai moral apakah yang dikandungnya? read more

Konservasi Berbasis Masyarakat terhadap Sisa Batuan Candi di Kompleks Makam Sasanalaya Candi Dusun Candi Karang

 Karya : Sheba Nur Majjid;24/535146/SA/22922; Prodi Arkeologi

ABSTRAK

Wilayah Sleman memiliki banyak temuan klasik yang salah satunya merupakan reruntuhan sisa candi yang berada di Makam Sasanalaya Candi. Situs ini mengalami alih fungsi menjadi makam, yang dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap candi sebagai bangunan kuburan serta pengaruh Islam yang kuat. Munculnya kepercayaan lokal terhadap tokoh spiritual seperti Nyai Champa dan Nyi Ageng Serang menjadikan kawasan ini disakralkan dan digunakan untuk kegiatan keagamaan rutin. Hal ini mendorong bentuk konservasi berbasis adat dan komunitas di dalam masyarakat sendiri. read more

Revitalisasi Benteng Vastenburg: Menjaga Warisan Kolonial di Jantung Surakarta

Raras Shafiazzahra Wibowo

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

=&0=&

=&1=&

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Surakarta yang terus melaju ke arah modernitas, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota ini—Benteng Vastenburg. Terletak strategis di pusat kota, benteng ini merupakan salah satu peninggalan penting dari masa kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1745, Benteng Vastenburg tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai ruang edukasi dan pariwisata budaya yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

=&2=&

Benteng Vastenburg dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-18. Pendirian benteng ini bertujuan sebagai pusat pengawasan dan pertahanan terhadap masyarakat lokal di wilayah Surakarta yang pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan Keraton Kasunanan. Dari segi arsitektur dan fungsinya, benteng ini mencerminkan strategi kolonial Belanda yang mengutamakan kontrol atas pusat-pusat kekuasaan lokal demi memperkuat hegemoni mereka.

Gambar 1: Benteng Vastenburg circa 1930 (Sumber: KITLV

https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/802024?solr_nav%5Bid%5D=e632af48a2c68d2f8276&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=2 read more