Arsip:

Kolonial

Desain Rangka Vespa sebagai Jejak Materi Inklusivitas dalam Otomotif Roda Dua di Indonesia: Sebuah Perspektif Arkeologi Gender

Muhammad Fadel Al Farabi

Program Studi Arkeologi

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

Email: muhammadfadelalfarabi@mail.ugm.ac.id 

1.  PENGANTAR

Pada paruh awal abad ke-20, pesatnya perkembangan Internal Combustion Engine melahirkan lini sepeda motor buatan Barat yang bermesin besar, berat, dan lekat dengan stigma pemberontakan. Kompleksitas dan besarnya tenaga motor masa itu menuntut kekuatan fisik yang membuatnya sangat eksklusif bagi laki-laki. Segregasi gender ini semakin dipertegas oleh desain struktur rangka, terutama letak tangki bensin di tengah, yang sangat menyulitkan perempuan berbusana rok untuk berkendara. Akibat rintangan teknis dan anatomis tersebut, ruang mobilitas otomotif roda dua tertutup bagi perempuan, sehingga mereka lebih memilih mengandalkan sepeda kayuh konvensional atau berjalan kaki. read more

Revitalisasi Benteng Vastenburg: Menjaga Warisan Kolonial di Jantung Surakarta

Raras Shafiazzahra Wibowo

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

 

Revitalisasi Benteng Vastenburg: Menjaga Warisan Kolonial di Jantung Surakarta

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Surakarta yang terus melaju ke arah modernitas, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota ini—Benteng Vastenburg. Terletak strategis di pusat kota, benteng ini merupakan salah satu peninggalan penting dari masa kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1745, Benteng Vastenburg tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai ruang edukasi dan pariwisata budaya yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. read more

Tanjung Tiram: Simpul Strategis Perdagangan dan Budaya di Pesisir Timur Sumatra Utara

Oleh: Galih Nugroho

Tanjung Tiram merupakan kawasan pelabuhan tradisional yang memiliki peran penting dalam sejarah maritim di pesisir timur Sumatra Utara, khususnya dalam konteks jalur perdagangan Selat Malaka. Lokasi ini menjadi penghubung antara daerah pedalaman dengan dunia luar melalui pertukaran komoditas. Hal tersebut menjadikan Tanjung Tiram tidak hanya sebagai simpul perdagangan, tetapi juga titik temu budaya dan agama dari berbagai peradaban Asia.

Pesisir timur Sumatra Utara telah lama dikenal sebagai jalur penting dalam jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara. Salah satu pelabuhan bersejarah di kawasan ini adalah Tanjung Tiram, yang secara geografis terletak di Kabupaten Batubara. Letaknya yang strategis, diapit oleh muara Sungai Kanan dan Sungai Kiri, menjadikannya lokasi ideal bagi aktivitas perdagangan dan pelayaran sejak masa pra-kolonial hingga modern.  read more

ANALISIS SINKRONIK DAN DIAKRONIK PADA PENINGGALAN MASA KOLONIAL DI KAWASAN KOTA TUA, JAKARTA: STADHUIS van BATAVIA dan de JAVASCHE BANK

Oleh: Anastasia Desy Putri Cahyani 

 

Gambar 1. Kawasan Kota Tua Tahun 1629
Sumber: oldmapsonline.org
Gambar 2. Kawasan Kota Tua Tahun 2025
Sumber : google.com/maps/.

Kota Tua Jakarta merupakan kawasan wisata di daerah Jakarta Barat yang menjadi cikal bakal kota Jakarta. Zona inti Kota Tua menjadi zona yang mengandung nilai sejarah tinggi karena area ini merupakan

pusat aktivitas ekonomi dan sosial-politik pada masa kolonial. Seiring dengan upaya revitalisasi zona inti, Kota Tua mengalami perubahan fisik pada lanskapnya. Walaupun mengandung nilai sejarah yang tinggi, zona inti Kota Tua ini belum masuk ke dalam daftar Cagar Budaya sesuai UU No.11 tahun 2010. Bangunan-bangunan pada kawasan ini dialihfungsikan menjadi museum: Gedung read more

Kawasan Permukiman Kolonial “Villa Park Banjarsari” di Kota Solo

Oleh : Alifah Hanin Salsabila

Sebagai salah satu wilayah yang pernah dikuasai oleh kolonial Belanda, Kota Solo memiliki banyak peninggalan bercorak kolonial. Beberapa contoh peninggalan tersebut tampak pada ragam arsitektur kolonial yang diimplementasikan pada bangunan serta sistem tata letak area permukiman. Banyak peninggalan berarsitektur kolonial yang tersebar di penjuru Kota Solo. Beberapa yang terkenal di kalangan masyarakat Solo maupun wisatawan, antara lain Benteng Vastenburg, Rumah Dinas Walikota Surakarta Loji Gandrung, Omah Lawa (sekarang menjadi Heritage Batik Keris), serta klaster permukiman berdasarkan etnis (kawasan pecinan di daerah Pasar Gede, kampung Arab di daerah Kauman, dan perumahan etnis Eropa Loji Wetan). Salah satu kawasan yang memiliki potensi besar sebagai hasil pengaruh arsitektur kolonial, tetapi mungkin belum banyak dikenal adalah Villa Park Banjarsari.

Gambar 1. Pintu masuk menuju Taman Villa Park Banjarsari.

Sumber : dokumentasi pribadi (2023)

Kawasan Villa Park Banjarsari terletak di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari. Lokasinya dapat ditemukan di tenggara Stasiun Solo Balapan dan di sisi utara Pasar Legi. Kawasan ini adalah kompleks permukiman yang terdiri dari deretan rumah-rumah, bangunan fasilitas penunjang (seperti gereja, sekolah, dan tempat hiburan), serta sebuah taman terbuka hijau.

Pada masa lalu, kawasan Banjarsari ini termasuk dalam wilayah kekuasaan Kadipaten Mangkunegaran. Pembangunan kawasan Villa Park dilakukan oleh Mangkunegara VI pada sekitar tahun 1910-an. Tujuan pembangunan kawasan tempat tinggal di daerah Villa Park ini ditujukan untuk menyediakan area tempat tinggal bagi para pegawai dan pejabat-pejabat etnis Eropa yang ditugaskan di Solo pada masa tersebut. Sebelum dikembangkan sebagai kawasan permukiman, kawasan Villa Park ini dulunya adalah semacam alun-alun yang dijadikan sebagai tempat untuk pelatihan legiun Mangkunegaran dan area pacuan kuda sejak masa  Mangkunegara II hingga Mangkunegara IV. Rancangan penataan dan pengembangan kawasan Villa Park kala itu dilakukan oleh arsitek asal Belanda bernama Herman Thomas Karsten dengan menerapkan konsep garden city yang juga sezaman dengan konsep garden city yang diterapkan di Semarang, Bogor, dan Malang. Dalam Ahyar & Sunjayadi (2022) disebutkan bahwa konsep garden city (kota taman) merupakan pola perencanaan tata kota mandiri yang dikelilingi oleh sabuk hijau dengan mengedepankan adanya perbandingan yang proporsional antara unsur kawasan perumahan, industrial, serta pertanian. Ciri khas dari kawasan yang menerapkan konsep kota taman adalah keberadaan dari ruang-ruang terbuka hijau yang berperan sebagai gerbang, simpul, dan tepian kawasan. Selain itu, ciri khas juga terdapat pada pola pendirian bangunannya yang tidak saling berdekatan dan memiliki halaman/taman di bagian depan, samping, maupun belakang bangunan.

Wujud penerapan konsep garden city tersebut masih tampak pada kondisi Villa Park saat ini, meskipun sudah mengalami banyak perubahan yang ditandai dengan semakin berkurangnya bangunan-bangunan berarsitektur kolonial. Kawasan Villa Park memiliki denah berbentuk bujur sangkar dengan jalan-jalan yang membentang di tiap sudutnya. Jalanan tersebut saling menghubungkan antar deretan perumahan yang berujung pada taman terbuka yang berada di tengah area permukiman. Bangunan-bangunan didirikan di sepanjang penjuru mata angin mengitari taman yang menjadi pusat dari Villa Park Banjarsari. Dalam catatan arsip disebutkan pula bahwa setiap rumah juga dirancang memiliki lahan taman/kebunnya sendiri sesuai dengan konsep garden city yang diterapkan.

Gambar 2. Lokasi Kawasan Villa Park Banjarsari.

Sumber : TIM AHLI CAGAR BUDAYA KOTA SURAKARTA (2022)

 

Pengamatan masa kini menunjukkan bahwa masih terdapat taman terbuka hijau dengan ukuran lahan cukup luas yang letaknya berada di tengah-tengah area perumahan. Di sekeliling taman juga masih dapat dijumpai keberadaan dari deretan rumah berukuran luas yang masing-masing memiliki lahan untuk taman/kebun kecil di bagian depan, samping, maupun belakang rumah. Selain itu, tiap rumah juga menampilkan wujud tampak depan yang seragam. Dilihat dari beberapa bangunan rumah yang masih bertahan dengan bentuk aslinya, dapat diketahui bahwa perumahan yang ada di kawasan ini dulunya menerapkan arsitektur kolonial karena memang menyesuaikan dengan tujuan awalnya, yaitu sebagai tempat tinggal bagi para etnis Eropa yang ada di Solo.

Jika dibandingkan dengan beberapa arsip foto lama, kondisi kawasan Villa Park di masa kini dengan di masa lalu masih menampakkan wujud pola tata ruang yang sama, yaitu dengan konsep garden city yang dicirikan dengan adanya keseimbangan proporsi antara ruang hijau dan kawasan bangunan. Pola tersebut tampak pada keberadaan taman terbuka hijau dan area permukiman yang memiliki keteraturan serta keserasian bentuk. Sementara itu, untuk perbedaan kondisi antara masa kini dengan masa lalu tampak pada kondisi taman dan keaslian bangunan. Taman terbuka hijau yang letaknya berada di tengah-tengah area perumahan tersebut telah mengalami revitalisasi sehingga wujud aslinya telah berubah dan banyak pula bangunan yang telah mengalami perubahan, baik karena tidak mendapatkan penanganan khusus sehingga menjadi terbengkalai, bahkan nyaris ambruk, maupun karena telah direnovasi secara keseluruhan.

Perubahan yang terjadi pada area taman Villa Park terletak di bagian tengah taman. Dulunya, pada bagian tengah taman hanya terdapat sebuah kolam dengan desain yang sederhana. Kini, kolam dengan air mancur tersebut telah ditambahi dengan bangunan baru, yaitu Monumen ’45 Banjarsari yang baru dibangun pada 31 Oktober 1973. Penambahan monumen tersebut dalam rangka mengenang peristiwa Serangan Umum Empat Hari di Kota Solo yang terjadi pada 7-10 Agustus 1949 karena area Villa Park ini menjadi salah satu lokasi dari terjadinya peristiwa perumusan gagasan perlawanan masyarakat Solo kala itu terhadap usaha agresi militer Belanda.

Gambar 3. Taman Villa Park pada masa kolonial dengan kolam yang masih sederhana.

Sumber : KITLV

 

Selain perubahan pada wujud kolam, taman Villa Park juga mendapat tambahan bangunan baru berupa dinding pagar pembatas yang mengelilingi area taman. Jika dilihat pada arsip foto, tampak bahwa bentuk taman pada kala itu tidak menghadirkan adanya dinding pembatas karena taman buatan Belanda umumnya menerapkan konsep opened atau taman terbuka.

Gambar 4. Area Taman Villa Park pada masa kolonial yang terbuka tanpa adanya dinding pembatas.

Sumber : KITLV.

 

Kini, taman Villa Park lebih dikenal dengan nama Taman Monumen ’45 Banjarsari (Monjari) karena taman ini menjadi tempat dari didirikannya Monumen ’45 Banjarsari oleh Pemerintah Kota Surakarta. Meskipun begitu, pada bagian pintu masuk taman di sisi selatan terdapat papan plang bertuliskan “Villa Park Banjarsari” yang menjadi penanda bahwa dulunya kawasan ini adalah kawasan bernama Villa Park. Dengan adanya papan plang nama tersebut menunjukkan bahwa asal-usul keberadaan kawasan ini tidak dihilangkan begitu saja atapun digantikan sepenuhnya sebagai monumen pengingat Serangan Umum Empat Hari.

Gambar 5. Monumen ’45 Banjarsari yang didirikan di bagian tengah dari Taman Villa Park Banjarsari.

Sumber : dokumentasi pribadi (2023). read more