Arsip:

Kegiatan HIMA

Pesanggrahan Rejowinangun: dari Pesanggrahan Sultan Menjadi Reruntuhan Terbengkalai

Karya : Muhammad Farrel Faisry

Keberadaan pesanggrahan-pesanggrahan di Daerah Istimewa Yogyakarta tidak lepas dari berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Untuk menunjang  aktivitas di dalam kerajaan, dibangun berbagai fasilitas seperti masjid, keraton, alun-alun, pasar, benteng, dan pesanggrahan. Pesanggrahan pada masa Kesultanan Yogyakarta merupakan tempat peristirahatan raja beserta kerabatnya. Karena berfungsi sebagai tempat mencari ketenangan dan kenyamanan, pesanggrahan biasanya dilengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti taman, kolam, pancuran, kebun, ruangan istirahat, dan sebagainya. (Azzah, 2020). read more

Laporan Kegiatan: Intip Keseruan HIMA di Candi Umbul

Riset Pengembangan Ilmiah

Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

rpi.himaugm@gmail.com

PENDAHULUAN

HILING 2026 atau HIMA Keliling merupakan salah satu program kerja HIMA (Himpunan Mahasiswa Arkeologi) dari divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) yang dilatarbelakangi oleh keinginan antaranggota untuk saling mengenal dan agar setiap divisi dapat melaksanakan program kerjanya masing-masing. HILING 2026 dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 April 2026 di Candi Umbul yang berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pemilihan Candi Umbul sebagai lokasi HILING 2026 didasari oleh alasan agar para anggota HIMA dapat mengenal situs ini lebih jauh. Selain itu, Candi Umbul juga merupakan situs bersejarah peninggalan era Mataram Kuno yang dikelilingi oleh susunan batu candi dan memiliki nilai budaya yang penting. read more

Upacara Adat Saparan Bekakak sebagai Warisan Budaya dari Kraton Ambarketawang

Farizza Nur Styanto

Pendahuluan 

Setiap satu tahun sekali, tepatnya pada hari Jumat minggu kedua di bulan Safar berdasarkan penanggalan Hijriah, pemerintah Kalurahan Ambarketawang yang terletak di Kapanewon Gamping mengadakan rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak. Pada tahun 2025, upacara tersebut dilaksanakan pada tanggal 7 dan 8 Agustus melalui beberapa rangkaian kegiatan. Pada hari pertama diadakan Malam Midodareni, Pentas Macapat, dan Pagelaran Wayang Kulit. Memasuki hari kedua diadakan Karawitan, Upacara Saparan Bekakak, hingga Kirab Saparan Bekakak yang ditutup dengan penyembelihan Bekakak dan dibagikan kepada masyarakat di Gunung Gamping read more

Konservasi Berbasis Masyarakat terhadap Sisa Batuan Candi di Kompleks Makam Sasanalaya Candi Dusun Candi Karang

 Karya : Sheba Nur Majjid;24/535146/SA/22922; Prodi Arkeologi

ABSTRAK

Wilayah Sleman memiliki banyak temuan klasik yang salah satunya merupakan reruntuhan sisa candi yang berada di Makam Sasanalaya Candi. Situs ini mengalami alih fungsi menjadi makam, yang dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap candi sebagai bangunan kuburan serta pengaruh Islam yang kuat. Munculnya kepercayaan lokal terhadap tokoh spiritual seperti Nyai Champa dan Nyi Ageng Serang menjadikan kawasan ini disakralkan dan digunakan untuk kegiatan keagamaan rutin. Hal ini mendorong bentuk konservasi berbasis adat dan komunitas di dalam masyarakat sendiri. read more

Revitalisasi Benteng Vastenburg: Menjaga Warisan Kolonial di Jantung Surakarta

Raras Shafiazzahra Wibowo

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

=&0=&

=&1=&

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Surakarta yang terus melaju ke arah modernitas, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota ini—Benteng Vastenburg. Terletak strategis di pusat kota, benteng ini merupakan salah satu peninggalan penting dari masa kolonial Belanda. Dibangun pada tahun 1745, Benteng Vastenburg tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai ruang edukasi dan pariwisata budaya yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

=&2=&

Benteng Vastenburg dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-18. Pendirian benteng ini bertujuan sebagai pusat pengawasan dan pertahanan terhadap masyarakat lokal di wilayah Surakarta yang pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan Keraton Kasunanan. Dari segi arsitektur dan fungsinya, benteng ini mencerminkan strategi kolonial Belanda yang mengutamakan kontrol atas pusat-pusat kekuasaan lokal demi memperkuat hegemoni mereka.

Gambar 1: Benteng Vastenburg circa 1930 (Sumber: KITLV

https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/802024?solr_nav%5Bid%5D=e632af48a2c68d2f8276&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=2 read more