Pengungkapan Acara Kerajaan Yang Menjadi Tempat Kemungkinannya Pertemuan Si Lima dan Si Gadis Baik Hati Berdasarkan Prasasti Tempuran dan Sumber Naskah Kuno

Gambar Prasasti Tempuran

Jika biasanya sebuah prasasti membahas mengenai penetapan daerah perdikan bebas pajak atau sima, maka Prasasti Tempuran memanglah prasasti dengan isi yang unik. Prasasti ini menceritakan rasa kegalauan ataupun frustasi dari seorang pemuda bernama Si Lima yang sedang patah hati terhadap seorang gadis yang tak sengaja ia tatap pada pertemuannya di sebuah upacara besar kerajaan. Ia semacam melakukan sumpah untuk dapat berbuat seratus kebaikan kepada sang gadis. Pada prasasti ini nama seorang pemuda tersebut disamarkan.

Prasasti ini bertanggalkan 1388 Saka dan dari sisi paleografi bertanggal pada era akhir Majapahit yang banyak diguncang dengan gejolak konflik keluarga kerajaan, berdirinya kesultanan Demak, dan sebagainya yang mengakibatkan kesusastraan Jawa pada masa itu memasuki fase stagnan dan berpindah ke Bali. Keunikan aksara pada prasasti ini sangat dimungkinkan karena adanya variasi yang dilakukan sang citralekha yang tidak lain adalah “Seorang murid” yang berada di lingkungan keraton dan tidak tinggi pendidikan atau merupakan suatu mandala yang tinggi pendidikan.

Lantas dalam pesta manakah Si Lima bertemu dengan gadis yang memikat hatinya? Berdasarkan naskah Negarakertagama, terdapat tiga pesta yang bisa menjadi potensi titik pertemuan mereka yaitu Pesta Sreda, Pertunjukkan Kesenian Tari, dan Kontes Keprajuritan Majapahit.

1. Pesta Sreda

Pesta Sreda merupakan pesta besar yang dilaksanakan pada masa Majapahit khususnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, pesta ini tercatat secara panjang lebar pada kitab Negarakertagama mulai dari pupuh 63-67 yang dilaksanakan pada tahun 1283 Saka. Pesta ini merupakan acara besar kerajaan yang dititahkan oleh rani Tribuwanawijayatunggadewi kepada Hayam Wuruk untuk memperingati wafatnya Sri Rajapatni, pada perayaan ini disebutkan bahwa istana kerajaan dihias semeriah dan semewah mungkin, acara ini berlangsung selama 7 hari 7 malam penuh dengan berbagai hidangan makanan, hadiah, dan persembahan mewah tak hanya itu setiap harinya selalu ada pertunjukkan kesenian dan bela diri yang berganti-ganti seperti tari-tarian, tinju, nyanyian, dan sebagainya.

Selain dilaksanakan pada masa Hayam Wuruk pesta Sreda juga dilaksanakan pada masa akhir Majapahit di bawah kepemimpinan Prabu Sri Girindrawardhana pada tahun 1408 Saka untuk memperingati dua belas tahun kepergian Prabu Singawardhana, pesta ini tercatat singkat pada prasasti Jiyu I. Namun hal ini terdapat titik kelemahan karena kita tidak tahu persis apakah pesta Srada ini dilaksanakan pada setiap masa kepemimpinan raja-raja Majapahit atau hanya raja tertentu saja, karena berdasarkan 2 sumber primer yang ada yakni Negarakertagama dan Prasasti Jiyu I memiliki rentang waktu yang lama, pesta Srada pertama memiliki selisih waktu 83 tahun dengan penanggalan prasasti Tempuran sedangkan pesta Srada yang dilaksanakan prabu Girindrawardhana memiliki selisih 20 tahun lebih muda. Acara ini memiliki potensi terbesar sebagai titik pertemuan antara Si Lima dan Si Gadis karena pesta ini merupakan pesta suci kerajaan untuk memperingati leluhur raja yang sekiranya wajib diikuti, disucikan, dan dihadiri orang-orang baik laki-laki maupun wanita, berbeda dengan upacara kesenian dan kontes keprajuritan yang tidak wajib untuk dihadiri dan memiliki nilai daya menarik yang berbeda-beda bagi setiap individu.

2. Pertunjukkan Kesenian Tari

Negarakertagama menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk telah banyak diselenggarakan pertunjukkan kesenian populer seperti kesenian musik dan tari. Raja Hayam Wuruk sendiri adalah seorang penari topeng yang ulung dan sering tampil di depan rakyat di berbagai daerah kunjungannya.

Negarakertagama, pupuh 27 :

Terjemahannya:

Berbagai kegiatan dilakukan yang dapat menyenangkan baginda raja, segala apa yang menimbulkan suka cita di desa-desa juga digelar, selalu diadakan permainan topeng-topengan, perang-perangan, mempesona bagi yang melihat.

Sungguh baginda penjelmaan dewa yang sedang mengelilingi dunia.

Negarakertagama, pupuh 91, 7 :

Terjemahannya:

Baginda raja telah mengenakan tampuk topeng, delapan orang pengikut menggunakan gelung beraneka ragam, keturunan arya bijaksana tingkah lakunya santun.

Dalam penampilannya semua orang diperbolehkan untuk ikut menonton ketika sang raja menari ini merupakan hal yang bisa membahagiakan sang raja sekaligus menghibur masyarakat Majapahit kala itu, di beberapa pupuh kakawin Negarakretagama menjelaskan bahwa acara tersebut sangat menarik dan menghibur para penontonnya.

Negarakertagama, pupuh 91, 8 :

Terjemahannya:

……….Gelak tawa terus menerus, sampai perut kaku beku.

Berdasarkan cuplikan di atas pertunjukkan kesenian baik musik maupun tari memang sering diselenggarakan di keraton ataupun desa-desa yang menjadi destinasi kunjungan raja dan karena sifatnya yang umum, siapa saja boleh datang untuk melihat dan dapat dipastikan ketika acara ini diselenggarakan pastilah ramai yang datang dan menonton mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua bersorak gembira dalam acara ini. Oleh karena itu, acara pertunjukkan kesenian seperti ini memungkinkan tempat pertemuan banyak orang dari segala arah wilayah, apalagi jika sang raja yang maju untuk tampil menari, dan disini pula lah yang menjadi kemungkinan besar tempat pertemuan Si Lima dan Gadis baik hati.

3. Kontes Keprajuritan Majapahit

Kontes keprajuritan merupakan salah satu acara besar yang diselenggarakan oleh kerajaan Majapahit, disebutkan bahwa acara ini dilaksanakan pada paruh pertama (1-15) bulan Caitra, acara ini diselenggarakan dengan tujuan memamerkan kekuatan tentara Majapahit sekaligus menghibur para rakyat, pejabat kerajaan, dan tentu saja raja, acara ini dilaksanakan di Lapangan Bubat yang berlokasi di utara Kota Majapahit. Pada penyelenggaraan acara kontes keprajuritan ini dibangunlah panggung untuk sang raja dan disebutkan di tengah lapangan terdapat bangunan megah nan tinggi yang tiang-tiangnya berhiaskan ukiran dongeng parwa.

Negarakertagama, pupuh 85 :

Terjemahannya :

Paruh pertama bulan caitra bala prajurit dan para pejabat kerajaan bersorak-sorai gembira berkumpul di depan mantri dan juga pejabat desa/keluarga raja dan semua pembantu raja hadir

Kepala daerah dan ketua desa dan juga para tamu dari luar kota, lalu terdapat para kesatria dan wiku haji yang menyertai para prajurit sekalian

Negarakertagama, pupuh 86:

Terjemahan :

Dua hari berlalu dilangsungkanlah perayaan besar raja dan rakyat di sebelah Utara kota yakni lapangan yang bernama Bubat dan terkenal di seluruh pelosok daerah.

Sering pula digunakan oleh Sri Paduka, menaiki tandu bersudut singa, diarak abdi berjalan, membuat kagum bagi siapa saja yang melihat.

Kondisi Bubat ialah lapangan luas nan lebar lagi rata untuk berlatih, membentang ke arah Timur setengah krosa sampai pada jalan raya besar, setengah krosa ke Utara bertemu tebing sungai.

Negarakertagama, pupuh 87 :

Panggung disusun berjajar dari Utara menghadap ke Barat, di arah Utara dan Selatan terdapat tempat singgasana untuk raja dan para kesatria……………..,

Di sanalah Sri Paduka memberikan berkat kesejahteraan lagi keselamatan kepada rakyat semua, santapan mata.

Kadang-kadang perang tanding perang pukul bertaruh adu lawan, tarian perang berbeda dengan pukul memukul dan tarik tambang, semoga menyenangkan,

Kadang-kadang empat atau tiga hari dan atau dua hari lamanya baru selesai.

Sepulang Sri Paduka (dari acara ini) Bubat sepi dan panggungnya dibongkar, maka perang tanding selesai, semua rakyat pulang gembira, saat bulan Caitra susut Sri Paduka menjamu para pemenang dan pulang dengan membawa banyak hadiah berupa bahan pakaian.

Dari penceritaan di atas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa kontes keprajuritan merupakan acara besar yang dihadiri banyak rakyat dan orang penting kerajaan yang berasal dari berbagai daerah dan untuk bisa berlangsung dua hingga empat hari, tentu ini serupa dengan acara kesenian yang pastinya dilestarikan untuk menunjukkan eksistensi dan kehebatan para pemuda dan prajurit Majapahit lalu diakhir acara pada bulat Caitra yang menyusut atau paruh kedua (Krasnapaksa) (?) diberilah hadiah dari sang raja kepada para pemenang berupa kain bahan pakaian. Dilihat dari lama pelaksanaan dan banyaknya volume masyarakat yang ikut menghadiri acara ini menjadikan lokasi dan acara ini menjadi titik pertemuan orang-orang dari segala daerah maka memungkinkan pula Si Lima dan Gadis baik hati bertemu pada acara ini.

Keterbatasan sumber primer membuat mengetahui di acara persis di mana Si Lima dan Si Gadis bertemu sangat sulit. Namun seperti yang disebutkan sebelumnya, Pesta Sreda memiliki potensi terbesar sebagai tempat pertemuan antara mereka karena Pesta Sreda merupakan acara yang wajib dan disucikan sehingga dihadiri baik laki-laki dan wanita.

 

Ditulis Oleh: Ahmad Zaki

Daftar Pustaka:

Muljana, S. (2012). Menuju Puncak Kejayaan. Yogyakarta : LKiS.

Perkasa, A. (2012). Orang-orang Islam di Majapahit. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Susanto, M.D. (2009). Prasasti Tempuran Tahun Saka 1388. Depok : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

  • Prapanca, Desawarnana atau Negarakertagama

 

 

 

 

 

Incoming search terms: