[HIMAPEDIA]FILOSOFI MASJID SAKA TUNGGAL: KEESAAN ALLAH SEBAGAI PENCIPTA ALAM SEMESTA

Masjid Saka Tunggal yang terletak di Desa Sempor, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini merupakan masjid yang menggunakan satu saka pada bagian tengahnya. Masjid Saka Tunggal ini dibangun pada tahun 1722 oleh Bupati Kendurean, putra dari Adipati Mangkupraja. Diwilayah yang sama yang jaraknya diperkirakan sekitar 150 m dari  masjid terdapat makam Adipati Mangkupraja.

     

Sumber: Kharisma Nabila (HIMA)

Masjid ini didirikan untuk memperingati seribu hari dari wafatnya Adipati Mangkupraja dan memiliki filosofi bahwa saka tunggal itu melambangkan keesaan Allah sebagai sang pencipta tunggal alam semesta. Pembangunan Masjid Saka Tunggal ini diketuai oleh Demang (ketua desa) Sembilan, diantaranya ialah Kiai Jabrang, Kiai Tanah Suci, Kiai Brangkal, Kiai Jatinegara, Kiai Tegalsari, Kiai Pekuncen, Kiai Semangding, Kiai Gumeng, dan Kiai Karangasem. Bangunan suci bertiang satu dianggap suci tidak hanya dipandang secara islami saja, tetapi pada candi Jawi dan candi Surawana juga memuat relief berupa bangunan suci bertiang satu.

Bentuk arsitektur dari masjid ini sebelum di renovasi, memiliki bentuk atap yang terdiri dari dua tingkat, memiliki serambi, memiliki tempat wudhu, memiliki mihrab dan mimbar, dan memiliki kentungan serta bedug. Atap dari masjid ini memiliki keistimewaan bentuk atapnya karena terdiri dari atap tumpang bertingkat dua dan hanya ditopang oleh satu saka saja pada bagian tengahnya yang berbeda dengan masjid kuno lainnya di Indonesia yang kebanyakan ditopang oleh empat saka. 

Serambi masjid ini sebelum dilakukan renovasi memiliki dimensi 6 x 9,2 m dan dinding sebelah timurnya terdiri dari dinding kayu setinggi 110 cm dan ketiga sisi lainnya ialah dari batu bata di plester. Pada bagian dinding penyekat antara serambi dan ruangan utama terdapat tiga pintu, yang mana pintu tengah lah yang merupakan pintu utama masjid, sedangkan pintu utara hanya dibuka di hari Jumat dan untuk jamaah pria, dan pintu selatan juga hanya dibuka pada hari Jumat tetapi untuk jamaah wanita.

Masjid ini memiliki ruang mihrab berdimensi sekitar 3 x 3 m yang dibagi menjadi dua bagian, bagian utara difungsikan sebagai tempat mimbar untuk khotib berkhutbah, sedangkan bagian selatan digunakan untuk tempat imam memimpin ibadah salat. 

    Sumber: Kharisma Nabila (HIMA)

 Dibagian tengahnya terdapat saka tunggal yang menopang masjid. Saka ini memiliki dimensi 30 x 30 cm dan tingginya 4 m dan pada ujung saka tersebut terdapat dua buah kayu utama yang melintang yang ditujukan sebagai penyangga utama bangunan Masjid Saka Tunggal dan di tengah saka tersebut terdapat empat danyang atau skur untuk membantu menyangga kayu-kayu yang ada di atasnya. Pada saka tersebut juga terdapat motif ukiran kayu yang masih asli dan belum pernah diubah atau ditambahkan hiasan lainnya. Ukiran ini terdapat di empat danyang di atas saka tunggal tersebut.

Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi secara besar, terutama pada bagian dinding yang awal mulanya menggunakan anyaman bambu dan pada bagian atap yang awal mulanya menggunakan ijuk dan pada tahun 1822 atap masjid diganti menggunakan genteng pathalan, dan sejak saat itu penggantian genteng di masjid ini dilakukan seratus tahun sekali, 1922 masjid ini menggunakan genteng Sokka. Pada bagian serambi juga telah dilakukan renovasi secara menyeluruh yang mengubah tiga pintu masuk menjadi lima pintu masuk pada bagian halaman depan masjid, tetapi masih ada tiga bagian berbeda setelah lima pintu masuk itu yang sepertinya merupakan bekas dari tiga pintu masuk yang lama.

Masjid Saka Tunggal tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan islam terdahulu khususnya ialah praktik ritual islam yang berkaitan dengan zikir atau berdoa kepada Tuhan yang digabungkan dengan kidung atau lagu-lagu Jawa dan biasanya dapat di dengarkan pada hari Jumat. Keunikan lainnya ialah Masjid Saka Tunggal ini menggunakan empat muadzin untuk memanggil orang-orang yang akan beribadah salat tanpa menggunakan mikrofon.

Ditulis Oleh: Kharisma Nabila

Editor : Maisy Pramaisella

REFERENSI:

Handinoto. 2008. Daendels dan Perkembangan Arsitektur Di Hindia Belanda Abad 19 Dimensi Teknik Arsitektur. 36(1): 43 – 53.

Sholikhah, I.M, Adiarti D, Kholifah A.N. 2017. Local Wisdom Reflected in The Symbols in Masjid Saka Tunggal Banyumas. Jurnal Kebudayaan Islam Universitas Jenderal Soedirman. 15(1):165-178.

Hermawan, F. 2011. Masjid Jami’ Soko Tunggal Kebumen sebagai Situs Budaya Warisan Indonesia. URL: http://bocahsastrajawa.blogspot.com/2011/12/masjid-jami-soko-tunggal-kebumen.html.  

Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen. 2014. Menguak Sejarah Masjid Saka Tunggal. URL: https://www.kebumenkab.go.id/index.php/public/news/detail/2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.