Oleh: Muhammad Fernanda Dhiyaul Hak

Setelah 15 tahun sejak film kelimanya pada tahun ini serial Indiana Jones kembali rilis dan kembali lagi untuk berpetualang untuk yang terakhir kalinya dengan judul Indiana Jones: The Dial of Destiny. Film yang memiliki tema arkeologi yang dibalut keseruan melalui petualangan tokoh utama yaitu Indiana Jones ini rilis pada akhir bulan juni tahun ini dan menjadi penutup dari serial legendaris Indiana Jones. Pada tulisan ini tidak akan membahas bagaimana keseluruhan cerita, rating, dan penjelasan ending film. Namun penjelasan singkat dari cerita film ini adalah dimana ketika Indiana Jones memasuki masa pensiunnya sebagai dosen di salah satu universitas di Amerika Serikat tetapi harus kembali lagi berpetualang dan mencari artefak legendaris yang diceritakan sebagai peninggalan dari Archimedes. Sudah tentu dalam perjalannya mencari artefak kisah Indiana Jones ini dibumbui dengan adegan-adegan aksi laga yang kuat dengan melibatkan musuh-musuhnya. Dari aksi-aksi yang dilakukan dari awal hingga akhir film juga menunjukkan beberapa adegan yang membahayakan bahkan merusak artefak maupun situs arkeologi yang ada. Hal-hal tersebut memang merupakan hal yang biasa di dalam film dan artefak-artefak yang dirusak tentunya hanya properti belaka dan bukan artefak asli. Namun muncul sebuah pertanyaan, bagaimana jika memang terjadi kerusakan pada artefak atau sebuah situs arkeologi yang dilindungi?. Sebelum itu artefak dan situs arkeologi merupakan bagian dari cagar budaya atau cultural heritage. Kita tinggalkan sejenak tentang pertanyaan sebelumnya mengenai bagaimana jika terjadi kerusakan pada artefak atau pada situs arkeologi, kita mungkin harus kembali pada penjelasan mengenai apa sebenarnya cagar budaya itu.


