Arsip:

HIMAPEDIA

Kawasan Permukiman Kolonial “Villa Park Banjarsari” di Kota Solo

Oleh : Alifah Hanin Salsabila

Sebagai salah satu wilayah yang pernah dikuasai oleh kolonial Belanda, Kota Solo memiliki banyak peninggalan bercorak kolonial. Beberapa contoh peninggalan tersebut tampak pada ragam arsitektur kolonial yang diimplementasikan pada bangunan serta sistem tata letak area permukiman. Banyak peninggalan berarsitektur kolonial yang tersebar di penjuru Kota Solo. Beberapa yang terkenal di kalangan masyarakat Solo maupun wisatawan, antara lain Benteng Vastenburg, Rumah Dinas Walikota Surakarta Loji Gandrung, Omah Lawa (sekarang menjadi Heritage Batik Keris), serta klaster permukiman berdasarkan etnis (kawasan pecinan di daerah Pasar Gede, kampung Arab di daerah Kauman, dan perumahan etnis Eropa Loji Wetan). Salah satu kawasan yang memiliki potensi besar sebagai hasil pengaruh arsitektur kolonial, tetapi mungkin belum banyak dikenal adalah Villa Park Banjarsari. read more

Rekam Jejak di Atas Kanvas: Menerawang Sosok Ivan the Terrible melalui Lukisan

Oleh : Corinthia Gracia Maharani

Potret sebuah pembunuhan paling melankolis pernah menjadi kontroversi di skena seni  lukis Rusia. Lukisan tersebut pada akhirnya menjadi rekam jejak yang mempengaruhi cara  pandang banyak orang terhadap salah satu penguasa paling influensial di Rusia.  

Pada masa modern ini, rekam jejak termudah yang dapat diambil dan diakses oleh  banyak orang ialah fotografi. Fotografi, ditambahkan beberapa utas tulisan dan diunggah ke  internet, dapat menjadi rekam jejak digital yang dapat menguntungkan atau merugikan citra  seseorang di masyarakat. Namun pada abad ke-19 silam, lukisan menjadi salah satu media yang  populer dalam merekam kejadian. Lukisan, terutama yang beraliran naturalisme dan realisme, dapat menggambarkan suatu peristiwa secara mendetail dan menangkap kesan pribadi sang  pelukis dalam karyanya. Baik itu sekedar potret diri, pemandangan alam, lingkungan perkotaan, kisah heroik, hingga tragedi dapat menjadi bahan pencerita sejarah yang mudah  dicerna. Di dalam artikel ini akan dibahas bagaimana beberapa lukisan  dapat mengkonstruksi cara pandang masyarakat awam terhadap Ivan the Terrible, tsar pertama  Rusia.   read more

TRADISI LUTUNGAN DI DESA TONALAN

Oleh: Ardia Shiva Laras Pramesti

Sumber Gambar: https://kaltara.tribunnews.com/2022/11/06/nutu-luntungan-tradisi-suku-dayak-belusu-tana-tidung-pembuatan-menumbuk-padi-butuh-waktu-dua-bulan

Di Kecamatan Srumbung, Desa Bringin, terdapat sebuah dusun bernama Dusun Tonalan. Beberapa penamaan tempat atau lokasi biasanya memiliki arti atau cerita tersendiri. Sama halnya dengan penamaan Dusun Tonalan. Menurut cerita warga setempat, nama “Tonalan” berasal dari kata tonel. Tonel adalah bentuk kesenian dramatik atau teater yang berkembang pada masa pasca kolonial, sebuah warisan dari bangsa kolonial yang diajarkan kepada sebagian kaum terpelajar (Pramayoza, 2015). Beberapa warga juga menyebutkan bahwa kesenian tonel ini mirip dengan kesenian ketoprak yang ada pada masa sekarang. read more

KEAJAIBAN DALAM SEJUMPUT TANAH LIAT: SEJARAH KERAMIK DINASTI MING DAN PORSELENNYA YANG POPULER

Oleh : Stefani Adelia Tiurma Mukti
Gambar 1. Keramik dari Masa Dinasti Ming Tiongkok
(https://nationalgeographic.grid.id/amp/133943393/porselen-dinasti-ming-pendongkrak-perekonomian-kekaisaran-tiongkok)

Keramik adalah salah satu bentuk artefak yang dapat menjadi indikasi suatu peradaban. Saat tanah liat lunak berubah menjadi keramik yang kuat, bahan mentahnya mengalami banyak transformasi, termasuk pemrosesan, pembentukan, pelapisan, dan pembakaran di tungku pembakaran. Keramik diciptakan dalam berbagai konteks budaya dan sosial ekonomi sehingga bentuk, lapisan kaca, dan pola ornamennya sangat bervariasi. Gaya sejarah yang berbeda di Tiongkok dibentuk oleh pembuat tembikar, kaisar, otoritas, dan konsumen keramik. Perjalanan sejarah panjang yang digaungkan dan dilestarikan oleh keramik, serta evolusi jaringan kiln yang mencerminkan fenomena perjumpaan lintas budaya yang terjadi seiring berjalannya waktu, menjadikan keramik begitu mempesona. read more

MEGALITIK: SEBUAH TRADISI YANG BERKELANJUTAN

Oleh : Christhoper Radityo Seno Pangayom
(https://www.tribunnewswiki.com/2021/09/30/kampung-bena)

Sebelumnya, kita selalu diajarkan bahwa Megalitik merupakan sebuah zaman yang muncul setelah zaman Neolitik. Dari situ kemudian dapat disimpulkan bahwa Megalitik merupakan suatu zaman yang baru dan benar-benar mulai terjadi ketika zaman Neolitik berakhir. Dengan adanya hal tersebut kita mulai berpendapat bahwa segala hal yang terjadi di zaman Neolitik dan zaman Megalitik mungkin saja tidak berhubungan karena kedua zaman tersebut memiliki kehidupan yang sangat berbeda. Namun, kemudian beberapa ahli berpendapat bahwa Megalitik bukanlah sebuah zaman yang berdiri sendiri, melainkan hanyalah sebuah tradisi yang sudah terjadi selama beberapa waktu bahkan sebelum “zaman Megalitik” tersebut benar-benar terjadi. Dalam artian, bahwa tradisi Megalitik ini sudah terjadi pada zaman Neolitik dan terus berlanjut pada zaman-zaman setelahnya yang bahkan di beberapa daerah tradisi ini masih berlangsung hingga pertengahan abad ke-18. read more

PRAKTIK AMPUTASI PADA 31.000 TAHUN YANG LALU DI KALIMANTAN

Oleh : Mohammad Rosihan Rafiudin
Gambar 1: Ilustrasi pasca amputasi
Sumber gambar: https://smithsonianmag.com/

Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur menyimpan wilayah yang berisikan kawasan pegunungan karst batu kapur yang luas dan juga terdapat banyak gua batu kapur dengan bukti arkeologis peninggalan manusia prasejarah di dalamnya, salah satu bukti arkeologis yang paling terkenal dan berpengaruh di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat ini adalah banyaknya ditemukan gambar cadas pada gua-gua yang ada di wilayah tersebut bahkan ditemukan juga gambar cadas tertua yang berusia 40.000 tahun yang lalu. Namun, temuan menarik di kawasan ini tidak hanya berhenti di situ, di situs Liang Tebo yang merupakan gua kapur dengan tiga kamar seluas 160 m2, di dalamnya ditemukan bukti praktik amputasi yang sangat awal yaitu sekitar 31.000 tahun yang lalu. Temuan ini dianggap sebagai bukti paling awal dari sebuah tindakan medis yang kompleks dan puluhan ribu tahun lebih awal dibanding “operasi” zaman batu yang ditemukan di situs-situs di seluruh Eurasia.  Penemuan ini sangat penting karena merupakan bukti bahwa setidaknya beberapa pemburu-peramu di Asia Tenggara telah mengembangkan pengetahuan dan teknik medis yang lebih unggul sebelum revolusi neolitikum sekitar 12.000 tahun yang lalu. Penemuan amputasi di Liang Tebo ini diungkap oleh Profesor Maxime ‘Max’ Aubert sebagai pemimpin proyek penelitian dari Griffith Centre for Social and Cultural Research bersama tim arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), FSRD Institut Teknologi Bandung (ITB), dan BPCB Kalimantan Timur pada tahun 2020 lalu.  read more