Balai Soedjatmoko

Oleh : Alifah Hanin Salsabila

Tepat di sisi depan sebuah bangunan toko buku modern terkenal yang berada di deretan Jalan Slamet Riyadi, berdiri sebuah bangunan yang tampak seperti rumah tua dengan gaya arsitektur Eropa. Bangunan rumah tua tersebut saat ini lebih dikenal dengan sebutan “Balai Soedjatmoko” yang kerap dijadikan sebagai lokasi untuk penyelenggaraan beragam event kesenian dan kebudayaan di Kota Solo. Pada bagian depan rumah tua ini dapat kita temukan sebuah prasasti baru berangka tahun 2014 yang berisi tentang penetapan status bangunan tersebut sebagai bangunan yang telah dianggap memenuhi kriteria sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Solo. Apa yang membuat bangunan ini istimewa hingga bisa ditetapkan oleh pemerintah kota sebagai “calon” cagar budaya? 

Tampilan depan Balai Soedjatmoko.
Gambar 1. Tampilan depan Balai Soedjatmoko. Sumber : bentarabudaya

Balai Soedjatmoko awalnya merupakan rumah dinas yang ditempati oleh  seorang dokter bernama Prof. Dr. K. R. T. Mohammad Saleh Mangundiningrat dan keluarganya. Beliau adalah dokter pribadi dari Keraton Kasunanan Surakarta yang sempat merawat Pakubuwana X dan XI. Rumah ini merupakan pemberian dari Pakubuwana X kepada Dokter Saleh. Dokter Saleh kala itu dikenal sebagai sosok dokter yang cukup terkenal di Kota Solo. Selain sebagai dokter untuk keraton, beliau juga merupakan kepala dari Rumah Sakit Kadipala Surakarta (sekarang sudah menjadi bangunan terbengkalai sejak 1985 dan sudah tercatat pula sebagai bangunan cagar budaya) dan juga dikenal sebagai dokter yang kerap membantu masyarakat yang tidak mampu.

Tidak ditemukan adanya data sejarah maupun tulisan penanda semacam penanggalan di seluruh penjuru rumah yang menjadi penanda kapan rumah kuno ini didirikan. Namun, penulis berspekulasi jika bangunan ini didirikan di kisaran setelah tahun 1929 ketika Dokter Saleh memperoleh gelar doktor dari Ilmu Kedokteran Universitas Amsterdam kemudian kembali ke Indonesia dan mengabdi di beberapa tempat sebelum akhirnya berpindah dan menetap di Solo hingga sebelum masa kekuasaan Pakubuwana X berakhir pada 1939. 

Gambar 2. Prasasti penetapan sebagai bangunan yang dianggap telah memenuhi syarat sebagai bangunan cagar budaya. Sumber : (Alifah, 2021)

Jika dilihat dari segi arsitekturnya, rumah ini memiliki gaya arsitektur Indis dengan perpaduan gaya Eropa yang telah mampu beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. Denah rumahnya masih menerapkan prinsip simetris dengan lantai yang rendah. Terdapat teras di bagian depan yang cukup luas dan menjorok ke luar. Namun, untuk teras belakangnya tidak terlalu luas. Pada bagian teras depan masih menggunakan unsur tiang penyangga yang berjumlah empat buah.

Gambar 3. Denah ruang.
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dari pintu masuk menuju pintu belakang dihubungkan oleh sebuah koridor dengan di sisi kanan dan kirinya terdapat ruangan-ruangan yang berbentuk simetris. Langit-langit rumah berada pada ketinggian yang cukup dan tidak terlalu rendah sebagai jalur sirkulasi udara. Ukuran pintu dan jendela yang digunakan berukuran besar dan terdiri dari dua lapis. Pada bagian atas pintu terdapat ventilasi udara. Desain jendelanya merupakan gabungan dari jendela krepyak untuk lapisan luar dan jendela kaca untuk jendela pada lapisan dalam. Lantainya di seluruh bagian rumah menggunakan tegel.  

Gambar 4. Lorong yang menghubungkan teras depan dengan teras belakang. Sumber : (Alifah, 2021)

Untuk ciri atapnya menggunakan bentuk atap rumah pelana dengan tritisan (atapnya agak menjorok ke bawah menutupi sebagian atas dinding bangunan) yang tidak terlalu panjang. Pada bagian atap depan terdapat geveltoppen (hiasan kemuncak)).  Untuk atap-atap belakang juga disertai dengan gevel berbentuk segitiga yang mengikuti bentuk atap pelana.

Gambar 5. Gevel dan jendela krepyak. Sumber : (Alifah, 2021)
Gambar 6. Bentuk atap.
Sumber : (Alifah, 2021)

Rumah kuno ini bisa dikatakan mewakili gaya arsitektur dari masa kolonial Belanda saat menjajah Nusantara. Khususnya pada masa setelah abad ke-19 karena bisa dilihat dari arsitekturnya yang sudah lebih matang dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan tropis Indonesia yang panas dan lembab.

Penamaan bangunan dengan nama “Soedjatmoko” diambil dari nama anak Dokter Saleh, Soedjatmoko. Beliau dikenal sebagai salah seorang diplomat berkebangsaan Indonesia yang pernah mewakili Indonesia dalam forum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan menjadi duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat pada tahun 1968-1971. Pemilihan nama Soedjatmoko dikarenakan sosok Soedjatmoko merupakan seorang cendekiawan yang diharapkan akan dapat menginspirasi masyarakat luas. 

 

Daftar Pustaka

Amin, M. I. Al. (2020, March 24). Kisah dan Sejarah Balai Soedjatmoko Solo, Rumah Dokter yang Kini Jadi Balai Pameran Seni Budaya. Solo.Tribunnews.Com. Retrieved November 4, 2023, from https://solo.tribunnews.com/amp/2020/03/24/kisah-dan-sejarah-balai-soedjatmoko-solo-rumah-dokter-yang-kini-jadi-balai-pameran-seni-budaya?page=all

Ariefullah, S. (2013). Pengaruh Budaya Indis Terhadap Bangunan Pemerintahan Di Kota Surakarta [Undergraduate Thesis]. Universitas Sebelas Maret.

Cheris, R., Imbardi, & Ivan, L. M. (2021). Elemen Arsitektur Pembentuk Karakter Bangunan pada Tapak Warisan Dunia Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Indonesia. Arsitektura, 19(1), 13–24.

Fariz, N., Sardjono, A. B., & Murtini, T. W. (2017). Gevel sebagai Karakter Bangunan Kolonial dengan Fungsi Rumah di Kota Tegal (Studi Kasus Jalan Gajah Mada Kota Tegal). Modul, 17(2), 56–61. https://doi.org/10.14710/mdl.17.2.2017.56-61.

Samsudi, Kumoro W, A., Paramita, D. S. P., & Dianingrum, A. (2020). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Pendopo Puri Mangkunegaran Surakarta. ARSITEKTURA, 18(1), 166. https://doi.org/10.20961/arst.v18i1.40893

SEJARAH BENTARA BUDAYA. (n.d.). Retrieved November 4, 2023, from https://www.bentarabudaya.com/tentang-kami

Sukawi, & Iswanto, D. (2011). Adaptasi Tampilan Bangunan Indis Akibat Perubahan Fungsi Bangunan Studi Kasus : Resto Diwang dan De Joglo Semarang. Modul, 11, 89–95.

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.