Analisis Ikonografis Relief Naratif Sudamala Candi Sukuh

Karya Muhammad Farrel Faisry

Pendahuluan

Artikel ini menyajikan analisis ikonografis terhadap salah satu panel relief naratif yang diletakkan di halaman teras ketiga Candi Sukuh, Berjo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Relief ini penulis pilih karena menampilkan fragmen adegan kisah Sudamala dengan penggambaran tokoh dan latar pemandangan yang menarik. Selain itu, relief ini mengandung makna yang bisa ditelisik secara mendalam terkait dengan kehidupan sosial budaya dan religius masyarakat Jawa pada masa tersebut. 

Erwin Panofsky dalam Studies in Iconology (1939) dan Meaning in the Visual Arts (1955) menyusun metode analisis ikonografis ke dalam tiga strata yang bersifat hierarkis dan saling menopang. Tahap pertama adalah deskripsi pra-ikonografis yang berfokus pada pengamatan makna faktual dan makna ekspresional tanpa penafsiran mendalam berdasarkan pengalaman praktis. Tahap kedua adalah analisis ikonografis yang mulai melakukan identifikasi tema, konsep, dan tokoh berdasarkan pengetahuan tekstual serta budaya tertentu. Tahap ketiga adalah interpretasi ikonologis yang merumuskan makna intrinsik dan konten di balik representasi visual menggunakan intuisi sintetis.

1. Tahap Deskripsi Pra-Ikonografis

Strata pertama dalam metode Panofsky adalah deskripsi pra-ikonografis. Tahap ini merupakan fondasi awal dari keseluruhan analisis ikonografis. Tahap ini berfokus pada identifikasi objek atau gambar pada relief berdasarkan pengalaman praktis. Pengalaman praktis didapat melalui keakraban kita terhadap objek-objek atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Relief diamati dan dideskripsikan apa adanya berdasarkan yang tampak secara langsung di permukaan batu tanpa identifikasi tokoh maupun penafsiran cerita dan makna simbolik secara mendalam.

1.1 Deskripsi Umum Panel Relief

Relief ini dipahatkan pada bidang panel berbentuk persegi panjang horizontal dari bahan batu andesit berwarna abu-abu gelap. Panel berupa temuan lepas yang tidak terhubung pada dinding bangunan serta tepian panel yang tidak rata atau halus. Komposisi relief mengisi bidang panel dengan hanya menyisakan sedikit ruang kosong. 

1.2 Elemen Seni (Unsur Seni Rupa)

a. Garis

Garis pada relief ini bisa dibagi dalam dua jenis. Pertama, garis-garis organis yang menggambarkan bentuk-bentuk alam, tidak kaku, dinamis, dan cenderung tidak beraturan. Garis ini membentuk figur anthropomorfis dengan gestur tubuh yang beragam. Mulai dari figur yang berdiri, figur yang duduk, hingga figur yang menekuk tangan. Setiap gestur dari figur-figur tersebut menghasilkan garis kontur yang berbeda. 

Kedua, garis-garis arsitektural yang cenderung terstruktur, tegas, kaku, dan bersifat geometris. Garis ini biasanya menggambarkan benda-benda mati. Garis ini contohnya terdapat pada kerangka dan pola genting bangunan.

b. Bidang dan Bentuk

Bentuk-bentuk pada panel ini didominasi oleh figur antropomorfik dengan berbagai gestur, vegetasi, dan struktur bangunan. Di mulai dari figur antropomorfik yang digambarkan paling besar dan menonjol yaitu sosok wanita yang berwajah menyeramkan dan bertaring, rambut digelung, mengenakan jamang/hiasan dahi, gelang tangan, kelat bahu, kalung, anting, kain lilit dari pinggang hingga mata kaki, membawa pedang panjang di tangan kanan, serta gestur tangan kiri yang seolah mengancam figur di hadapannya. Di belakangnya terdapat dua figur lain dengan wajah menyeramkan, tetapi pakaiannya lebih sederhana dan keduanya saling berhadap-hadapan. 

Di depan sosok wanita tadi, terdapat figur laki-laki yang berwajah pasrah, rambut digelung, mengenakan gelang tangan, kelat bahu, kalung, anting, kain lilit dari pinggang hingga mata kaki, serta posisi kedua tangan diikat pada sebatang pohon. Di belakangnya terdapat satu figur dalam posisi duduk meringkuk dengan kepala tertunduk, wajah ketakutan, berbadan tambun, dan pakaian lebih sederhana.

Terdapat figur-figur lain yang hanya berupa potongan tubuh manusia berupa empat kepala berwajah menyeramkan dan satu potongan tangan yang digambarkan melayang-layang di sekitar figur laki-laki yang diikat. Di belakang figur-figur anthropomorfis tadi terdapat objek-objek lain berupa tiga pohon dengan jenis yang berbeda beserta bangunan beratap limasan dan bangunan beratap tumpang bertingkat di belakangnya.

c. Tekstur dan Gelap Terang

Baik figur-figur antropomorfik maupun objek-objek lain pada relief ini dipahat dalam teknik pahatan dalam/tinggi (high relief). Relief ini menggunakan teknik gambar perspektif di mana objek-objek yang berada di bagian depan digambarkan lebih besar, detail, dan menonjol. Sementara itu, objek-objek lain yang berada makin ke belakang digambarkan lebih kecil, samar, dan kadang terhalang oleh objek di depannya. Penggunaan teknik gambar perspektif ini membantu memperjelas jarak dan kesan tekstur pada relief.

Relief ini sepenuhnya menggunakan warna alami dari bahan batu andesit tanpa pewarnaan tambahan. Oleh karena itu, efek gelap terangnya dihasilkan oleh kedalaman pahatan dan pencahayaan alami.

2. Tahap Analisis Ikonografis

Strata kedua dalam metode Panofsky adalah analisis ikonografis. Tahap ini dilakukan dengan menghubungkan motif artistik dengan tema, konsep, tokoh, atau cerita tertentu berdasarkan pengetahuan dari sumber literatur dan tradisi seni rupa yang relevan. Unsur-unsur seni rupa yang telah dideskripsikan pada tahap sebelumnya kemudian diidentifikasi menggunakan pengetahuan konvensional mengenai kisah Sudamala pada relief di Candi Sukuh.

2.1 Identifikasi Konteks Arsitektural

Relief ini terletak di halaman teras ketiga Candi Sukuh yang merupakan halaman tersuci pada candi ini karena menggunakan konsep mandala linier. Relief ini berupa temuan lepas yang terpisah dengan bangunan utama candi. Di halaman ketiga Candi Sukuh terdapat banyak relief naratif yang merupakan fragmen dari beberapa kisah yang populer pada masa akhir Majapahit yang didominasi tema tentang ruwat. Misalnya kisah Sudamala, Bhimaswarga, Garudeya, dll. 

2.2 Identifikasi Figur dan Objek

Figur utama wanita berwajah seram yang memegang pedang merupakan Batari Uma (istri Batara Guru/Dewa Śiwa) yang dikutuk menjadi Durga Ra Nini. Dua figur berwajah seram lain di belakangnya merupakan Gandharwa (makhluk pemain musik di kahyangan) bernama Citragada dan Citrasena yang dikutuk menjadi raksasa bernama Kalantaka dan Kalanjaya.

Figur laki-laki yang diikat di Pohon Randu Alas merupakan Sadewa (Putra bungsu Pandu) yang ditemani abdi setianya yang duduk meringkuk ketakutan di belakangnya. Sadewa juga dikelilingi makhluk-makhluk ghaib berbentuk kepala dan tangan yang merupakan bagian dari pasukan hantu Durga Ra Nini.

Tampak di pemandangan latar belakang terdapat sebuah rumah panggung beratap limasan dan di belakangnya terlihat atap bangunan meru berbentuk tumpang tiga. Selain itu, digambarkan juga tiga jenis pohon yang berbeda. Pohon di mana Sadewa diikat merupakan jenis Pohon Randu Alas. Selanjutnya, agak jauh ke belakang (gambar perspektif) terdapat Pohon Pinang. Terakhir, di belakang atap limasan tampak menyembul dedaunan Pohon Semboja.

2.3 Identifikasi Adegan Naratif

Relief ini menggambarkan salah satu adegan dalam kisah Sudamala yaitu ketika Durga Ra Nini sedang mengancam Sadewa bersama dengan pasukan hantunya untuk membebaskannya dari kutukan. Sebelumnya dikisahkan bahwa Batari Uma dikutuk menjadi raksasi bernama Durga Ra Nini karena telah mengkhianati suaminya Batara Guru. Ia bersama Kalantaka dan Kalanjaya diusir dari kahyangan dan kutukannya hanya bisa dihilangkan apabila ia diruwat oleh Sadewa.

Durga memperdaya Kunti (Ibu Sadewa) agar membawa Sadewa ke Setra Gandamayit/Setra Gandamayu (Hutan angker tempat mayat dan makhluk halus dalam mitologi Jawa) tempat Durga Ra Nini tinggal bersama pasukan hantunya. Sadewa merasa tidak sanggup meruwatnya sehingga membuat Durga Ra Nini semakin marah dan mengancam akan membunuhnya.

Dikisahkan dalam adegan selanjutnya, Sadewa dibantu oleh Batara Guru sehingga ia sanggup meruwat Durga Ra Nini. Durga Ra Nini akhirnya menjelma kembali ke wujud Batari Uma yang cantik bersama dengan Kalantaka dan Kalanjaya yang juga dikembalikan ke wujud aslinya. Sadewa kemudian diberi julukan “Sudamala” yang artinya penghilang kutukan atau kemalangan.

3. Tahap Interpretasi Ikonologis

Strata terakhir dalam metode Panofsky adalah interpretasi ikonologis. Pada tahap ini, relief tidak hanya dipahami sebagai pahatan berisi ilustrasi cerita. Namun, sebagai dokumen budaya yang merekam jejak sosial budaya dan religius masyarakat Jawa kuno, khususnya pada masa akhir Majapahit abad ke-15.

3.1 Simbol Ruwat untuk Majapahit

Kata Ruwat dalam Bahasa Jawa Kuno artinya salah, rusak, dibuat tidak berdaya (kejahatan, kutukan, pengaruh jahat, kemalangan). Dari arti kata tersebut, jelas bahwa arah pokok ruwatan ialah membebaskan manusia dari kutukan, kemalangan, dan pengaruh roh-roh jahat yang membawa malapetaka (Reksosusilo, 2006). 

Ada banyak karya sastra Jawa Kuno yang menceritakan para dewa, makhluk kahyangan, atau manusia yang terkena kutukan menjadi raksasa atau binatang buas. Kemudian, mereka dibebaskan oleh kesatria atau dewa hingga kembali ke wujud semula. Konsep ruwat inilah yang menjadi inti pokok dari sebagian besar relief di Candi Sukuh, termasuk relief kisah Sudamala.

Sejatinya, ruwatan telah dikenal masyarakat Jawa setidaknya sejak masa Majapahit melalui karya sastra dan pahatan relief. Candi Sukuh yang dibangun sekitar abad ke-15 berdasarkan sêngkalan mêmêt di gapura pintu masuk halaman pertama yang berarti 1437 Masehi. Pahatan relief Sudamala di Candi ini bukanlah tanpa sebab. Ia diyakini dibuat sebagai simbol untuk meruwat Majapahit yang di masa itu sedang mengalami kemunduran dan nestapa. 

Setelah merasakan puncak kejayaannya di masa pemerintahan Hayam Wuruk pada abad ke-14, Majapahit mulai mengalami masa-masa sulit hingga kemunduran pada awal abad ke-15. Di mulai dari perang saudara, wilayah bawahan yang memisahkan diri, gagal panen, hingga bencana alam menyebabkan penderitaan di penjuru negeri.

Hal ini menginisiasi dibuatnya berbagai macam relief bertemakan ruwat di Candi Sukuh. Kisah Sudamala (Sadewa) yang meruwat Durga Ra Nini dari kutukan agar kembali ke wujud semula merupakan simbolisasi ruwatan untuk Majapahit yang sedang dilanda kemalangan agar dapat kembali berjaya seperti masa sebelumnya.

3.2 Pengaruh Kreativitas Lokal

Keberadaan tokoh Durga Ra Nini (Durga bertaring) dalam karya sastra Sudamala dan digambarkan dalam panel relief di Candi Sukuh ini merupakan jejak local genius (kearifan lokal). Tokoh Durga Ra Nini tidak ditemukan dalam tradisi India. Ia merupakan contoh bentuk difusi budaya masyarakat Jawa Kuno yang mengadopsi budaya India dengan tambahan kreativitas lokal sehingga tidak hanya menerima pengaruh luar secara mentah-mentah.

Penutup

Penerapan analisis ikonografis relief kisah Sudamala ini mengutamakan prinsip kejujuran metodologis. Di mana analisis ikonografis dihentikan pada tahap yang masih bisa dipertanggungjawabkan oleh ketersediaan data. Tahap deskripsi pra-ikonografis dilakukan berdasarkan pengamatan langsung terhadap relief sehingga hanya mendeskripsikan apa adanya. Tahap analisis ikonografis lebih interpretatif dan bergantung pada pengetahuan penulis tentang tradisi seni rupa dan sumber literatur. Sementara itu, tahap interpretasi ikonologis merupakan tahap yang paling spekulatif dan dipengaruhi subjektivitas penulis sehingga memerlukan ketelitian agar interpretasinya tidak berlebihan serta tetap didukung data yang tersedia.

Referensi

Padmapuspita, K. (1982). Candi Sukuh dan Kidung Sudamala. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Panofsky, E. (1939). Studies in Iconology: Humanistic Themes in the art of the Renaissance. Oxford University Press.

Panofsky, E. (1955). Meaning in the Visual Arts. Doubleday Anchor Books.

Reksosusilo, S. (2006). Ruwatan dalam Budaya Jawa. Studia Philosophica et Theologica, Vol. 6 (1), 32–53

Wardani, Y. K., Sariyatun, Pelu, M. (2013). Makna Simbolik Relief Sudamala dan Garudeya di Candi Sukuh Relevansinya dengan Pengembangan Nilai-Nilai Karakter dalam Pembelajaran IPS Sejarah. FKIP Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.