Oleh : Anastasia Desy Putri Cahyani
1. LATAR BELAKANG
Yoni menjadi simbol sakral yang melambangkan aspek feminim, kesuburan, sumber kehidupan, dan kelahiran dalam kepercayaan Hindu. Umumnya, yoni sebagai representasi Dewi Parwati dipasangkan dengan lingga, sebagai simbol Dewa Siwa. Secara ikonografi, yoni biasanya berbentuk alas batu persegi atau bundar dengan lubang di tengah sebagai tempat lingga ditegakkan. Terdapat saluran air (cerat) yang berfungsi untuk mengalirkan air suci dalam ritual pemujaan dan penyucian. Di Nusantara simbol yoni banyak ditemukan pada peninggalan masa Hindu. Banyak ahli juga menafsirkan yoni sebagai lambang filosofi tentang “asal mula kehidupan” atau “regenerasi”
Sampai saat ini masyarakat Hindu memiliki konsep kosmologi, dalam konsep ini gunung dipandang sebagai Axis Mundi atau “poros dunia”. Konsep ini berakar pada simbolisme Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta (Eliade, 1959). Gunung menjadi penghubung antara dunia manusia (bhurloka) dengan dunia para Dewa (svarloka). Konsep kosmologi juga dimaknai sebagai pengetahuan yang mengarahkan keseimbangan hidup dan hubungan harmonis antara manusia-Tuhan-alam serta sarana peningkatan bhakti (amal baik) dalam hidup sehari-hari. Bagi kaum Rsi dan pertapa di Lawu, melakukan praktik “pengunduran diri” ke lereng dan puncak gunung sebagai tahap wanaprastha-sanyasin (menjauh dari ikatan duniawi). Penyimpangan terhadap kosmologi akan mengancam lingkungan dan kehidupan manusia.
Banyak situs klasik di Nusantara yang ditemukan di daerah lereng gunung/pegunungan. Salah satunya adalah Situs Liyangan di kaki Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penemuan situs ini diawali dengan laporan warga pada tahun 2009 terkait lempengan batu yang strukturnya mirip dengan tembok rumah salah satu warga. Setelahnya, area tambang di daerah tersebut menemukan benda-benda arkeologis di sekitarnya. Penelitian intens mulai dilakukan pada tahun 2010-2014 oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Sampai saat ini, luas area penelitian telah terbuka seluas 3 sampai 4 hektar. Berdasarkan penelitian, Situs Liyangan telah terkubur oleh material vulkanik Gunung Sindoro sedalam 6-9 meter (Abbas, 2014).
Telah dilakukan berbagai penelitian pada area Situs Liyangan. Penelitian-penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kelengkapan lanskap serta temuan di Situs Liyangan. Hingga kini, Situs Liyangan dikenal sebagai situs yang cukup lengkap dengan keberadaan struktur pemukiman, bangunan keagamaan, sistem pertanian hingga temuan artefak alat-alat sehari-hari. Namun, penelitian terdahulu cenderung berfokus pada area utama Situs Liyangan dan mengabaikan temuan-temuan di
sekitar situsnya. Oleh karena itu dalam penelitian kali ini akan dibahas mengenai temuan artefak berupa lima buah yoni yang berada di bagian barat daya Situs Liyangan yang mengarah ke lereng atau puncak Gunung Sindoro dan mengorelasikannya dengan konsep gunung sebagai Axis Mundi dalam kosmologi masyarakat Hindu.
Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung. Peneliti melakukan observasi langsung ke Situs Liyangan dan memetakan koordinat temuan yoni di bagian barat daya Situs Liyangan dengan bantuan perangkat lunak berupa Google Earth dan Google Maps. Kemudian akan dilihat apakah yoni-yoni tersebut membentuk suatu pola dan menginterpretasikan persebaran yoni dalam konsep kosmologi Hindu. Interpretasi persebaran temuan yoni akan didukung dengan studi pustaka terhadap beberapa literatur terdahulu tentang pemaknaan artefak yoni itu sendiri dan penjelasan konsep kosmologi yang dipercayai masyarakat Hindu.
2. PEMBAHASAN
Situs Liyangan tidak hanya unik karena kelengkapan tinggalan atau lanskapnya, melainkan distribusi temuan religius yang tersebar di luar titik inti situs. Salah satu temuan yang menonjol adalah yoni. Total terdapat lima Yoni yang sudah ditemukan pada letak-letak yang tersebar di bagian barat daya situs yang juga merupakan arah menuju puncak Gunung Sindoro. Menurut Soekmono (1974), penempatan perangkat ritual seperti lingga-yoni tidak pernah lepas dari pertimbangan kosmologis.
2.1 Persebaran Yoni dan Lanskap Sakral Liyangan
Jika yoni diasosiasikan dengan ruang suci yang terpusat, maka dalam konteks ini yoni tampak tersebar dan beberapa di antaranya membuat pola linear. Berdasarkan percakapan antara penulis dengan warga sekitar, menuju arah barat daya atau semakin mendekati puncak Gunung Sindoro terdapat indikasi-indikasi temuan serupa yang sayangnya hingga saat ini belum dilakukan observasi atau penelitian.


Dari gambar tersebut dapat dilihat tiap temuan yoni memiliki koordinat sebagai berikut:

2.2 Interpretasi Pola Persebaran temuan Yoni
Pola orientasi ini mengindikasikan adanya hubungan simbolik antara unsur ritual di Situs Liyangan dengan gunung sebagai ruang sakral. Dengan demikian alih-alih berdiri sebagai objek tunggal, yoni-yoni ini membentuk jaringan simbolik yang menginterpretasikan jalur spiritual menuju ruang yang dianggap sakral (Snodgrass; 1985). Fungsinya sebagai instrumen dalam ritual penyucian dilambangi oleh penggunaan air yang disakralkan dan dipercaya memiliki kekuatan yang mampu membersihkan diri manusia secara lahir-batin. Oleh karena itu, eksistensi beberapa yoni yang tersusun menuju arah Gunung Sindoro dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari tahapan ritual penyucian yang dilakukan masyarakat Liyangan pada masa itu.
Interpretasi tersebut semakin relevan apabila dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat Hindu tentang kesakralan gunung. Dalam kepercayaan Hindu, perjalanan menuju puncak gunung bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada dunia Dewa dan menjauhi nafsu duniawi. Pada umumnya sebelum memasuki ruang sakral, seseorang harus terlebih dahulu menjalani proses penyucian melalui ritual tertentu. Ditambah dengan informasi yang bersumber dari warga sekitar terkait indikasi temuan yoni pada jalur yang linear dengan temuan-temuan yoni saat ini. Dengan demikian, pola persebaran yoni menuju puncak Gunung Sindoro dapat dipahami sebagai penanda dari jalur ritual masyarakat Liyangan.
3. KESIMPULAN
Penelitian terhadap persebaran yoni di Situs Liyangan yang terletak di kaki Gunung Sindoro mengungkap hubungan antara temuan arkeologis dengan konsep kosmologi Hindu. Fokus utama kajian ini adalah lima buah yoni yang ditemukan di bagian barat daya situs. Yoni-yoni tersebut membentuk polinear yang mengarah ke puncak gunung. Dalam kepercayaan Hindu, gunung dihormati sebagai Axis Mundi atau “poros dunia”, sebuah pusat alam semesta yang menghubungkan dunia manusia
(bhurloka) dengan dunia para Dewa (Svarloka). Pola orientasi yoni-yoi tersebut mengindikasikan adanya jaringan simbolik yang berfungsi sebagai jalur spiritual menuju ruang sakral. Yoni bukan hanya sebagai simbol kesuburan atau representasi Dewi Parwati, melainkan sebagai instrumen penting dalam ritual penyucian. Melalui penggunaan air yang disakralkan, yoni menjadi sarana pembersihan diri secara lahir-batin bagi masyarakat Hindu pada masa itu.
Sebagai kesimpulan, keberadaan yoni yang membentuk pola linear menuju puncak Gunung Sindoro dipahami sebagai penanda tahapan ritual penyucian. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Liyangan mengintegrasikan tata ruang mereka dengan nilai-nilai kosmologis, di mana perjalanan menuju puncak gunung merupakan perjalanan spiritual untuk menjauhi ikatan duniawi. Dengan demikian, distribusi yoni menjadi bukti fisik praktik keagamaan yang mengharmonisasikan manusia, alam, dan Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Candrawan, I. (2016). KOSMOLOGIS MASYARAKAT HINDU DI KAWASAN TRI DANU DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP. , 14, 23-35.
https://doi.org/10.32795/ds.v14i27.44.
Pusparani, K., Astawa, I., Utami, L., & Dwijayanti, D. (2020). Kosmologi Hindu Dalam Konsep Purusa Dan Pradhana Pada Palinggih Kiwa Tengen Di Pura Besakih. , 3, 227-237.
Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1973), hlm.
83–85.
P.J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (Jakarta: Djambatan, 1983), hlm. 221–225.