Nilai Moral dalam Kisah Angsa dan Kura-kura: Relief Tantri di Petirtaan Candi Penataran

Oleh: Irkam Asroni

Pendahuluan

Candi Penataran yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud tepatnya di Desa Penataran-Blitar, merupakan kompleks candi Hindu-Buddha terbesar di Jawa Timur. Kompleks ini memiliki dua petirtaan (kolam suci). Petirtaan yang lebih besar terletak di luar tembok candi dan terletak agak jauh sedangkan petirtaan yang lebih kecil terletak di sebelah tenggara candi induk dengan dihiasi relief-relief kisah fabel. Relief-relief tersebut menampilkan berbagai cerita binatang dari tradisi Pancatantra-Tantri. Salah satu relief istimewa menggambarkan kisah Tantri Kamandaka, khususnya episode Angsa dan Kura-kura. Pertanyaannya, mengapa kisah rakyat yang tampak menghibur ini diukir pada dinding petirtaan suci, dan nilai moral apakah yang dikandungnya?

 

Gambar 1. Candi Induk Penataran (kiri), Petirtaan di Penataran (kanan)

(Sumber: KITLV diakses pada Juni 2024)

 

Mengenal Tantri Kamandaka

Tantri Kamandaka adalah kumpulan cerita fabel tua berbahasa Jawa Kuno. Menurut Hooykaas (1973) dikutip dari Patt (1979), tantri ini adalah salah satu naskah Jawa Kuno tertua yang masih ada (diperkirakan abad ke-13–14 M) dan sejatinya adalah olahan ulang dari fabel-fabel binatang dari buku pertama Pañcatantra India. Dalam versi Jawa ini, tokoh-tokoh utama adalah hewan-hewan seperti kerbau, buaya, serigala, angsa, dan kura-kura, yang dibingkai dalam cerita tentang tokoh Nandaka (kerbau) dan tokoh Tjandrapalig (singa). Dibanding versi aslinya, Tantri Kamandaka memuat latar samping cerita (frame story) yang jauh lebih luas, yaitu seorang putri istana bernama Tantri – putri seorang menteri – yang mengisahkan semua cerita binatang ini kepada raja dan akhirnya menjadi permaisurinya (Patt, 1979).

Dari segi tema, koleksi Tantri Kamandaka termasuk dalam literatur Pañcatantra (dalam tradisi Jawa disebut tantri), bukan literatur Jataka Buddhis (Klokke, 1993). Cerita-cerita Pancatantra umumnya mengandung petuah tentang kebijaksanaan duniawi dan kepemimpinan. Sebagaimana ditegaskan salah satu pengkajian, cerita-cerita Pañcatantra bertujuan memberi petunjuk tentang ketatanegaraan dan kebijaksanaan kehidupan sehari-hari (Klokke, 1993). Demikian pula Tantri Kamandaka, meski mengambil bentuk fabel humoris, sarat dengan nilai moral praktis. Cerita-cerita ini mengajarkan sifat-sifat kebajikan seperti kerendahan hati, kewaspadaan, serta pentingnya pikiran sehat dalam menghadapi situasi sehari-hari. Tradisi lisan dan naskah Jawa menyebut relief-relief cerita ini sebagai “relief Tantri” karena memang berdasarkan kumpulan kisah tantri tersebut (Klokke, 1993).

Relief Angsa dan Kura-Kura di Petirtaan Penataran

Relief Angsa dan Kura-kura di Petirtaan Penataran dipahat di dinding barat petirtaan berangka tahun Saka 1337 (1415 M) (Patt, 1979). Relief ini terdiri dari tiga adegan beruntun. Adegan pertama yang terletak di kanan bawah tampak dua kura-kura memegang ujung sebuah tongkat yang dipegang seekor burung (angsa) yang duduk di tanah. Burung itu kemudian mengangkat tongkat dengan dua kura-kura yang tergantung di ujungnya. Adegan ini adalah inisiasi kisah, menambah konteks yang tidak ditemui di relief lain yaitu burung mengambil tongkat dan menyuruh kura-kura berpegangan (Klokke, 1993). Pada adegan kedua dan ketiga menggambarkan dua serigala (atau anjing hutan) berdiri di sebelah kiri, menatap ke atas; selanjutnya kedua serigala tersebut menyerang dan menggerayangi dua kura-kura yang telah jatuh ke tanah. Di atas mereka, burung masih tampak terbang membawa tongkat. Secara lengkap, relief tersebut menggambarkan skenario “Angsa dan Kura-kura”, yang juga terdapat di relief candi lain seperti Mendut dan Jago (Klokke, 1993). Analisis ikonografis mencatat penyesuaian lokal: misalnya satu burung (bukan dua), dua kura-kura (bukan satu), serta satu/dua serigala (menggantikan manusia) sesuai kebiasaan relief Jawa Timur (Klokke, 1993). Namun secara umum urutan peristiwa di relief Penataran konsisten dengan versi Tantri: sepasang kura-kura diangkat oleh angsa, memamerkan diri, lalu jatuh dan menjadi mangsa para serigala.

Gambar 2. Relief Tantri pada Petirtaan Candi Penataran

(Sumber: KITLV diakses pada Juni 2024 diolah oleh penulis)

 

Makna dan Ajaran Moral

Kisah Tantri secara tradisional dimaksudkan sebagai kumpulan petuah duniawi (Klokke, 1993). Cerita Angsa dan Kura-kura mengandung pesan moral tentang kerendahan hati dan bahaya kesombongan. Dalam naskah Tantri dikisahkan bahwa kedua kura-kura awalnya di bawah landasan kerendahan hati namun kemudian sombong saat melihat diri di udara, sehingga tergelincir dan dimangsa serigala. Pelajaran utamanya adalah jangan cepat terbuai oleh pujian dan tempatkan hati rendah, selagi senantiasa waspada terhadap konsekuensi perkataan sendiri. Menurut Maruti (2017), kisah ini juga melambangkan persahabatan dan kepercayaan: angsa digambarkan cerdik dan setia kawan, sedangkan kura-kura menjadi simbol kemarahan dan ketidakmampuan menahan emosi. Keberadaan relief tersebut di petirtaan menegaskan fungsi moralnya: meski penggambarannya polos dan menghibur, Cerita-cerita Tantri ini justru menjadi sarana efektif penyampaian nilai-nilai moral praktis (Patt, 1979).

Secara umum, Hari Lelono (2016) menegaskan bahwa relief pada candi sengaja diciptakan sebagai media pendidikan moral budi pekerti pada masa Jawa Kuna, termasuk juga di dalamnya relief-relief pada Candi Penataran. Sebagaimana dikaji, kisah-kisah Tantri (relief dengan angka tahun Saka 1337) menggantikan peran kisah Jataka di candi-candi Hindu Majapahit akhir. Cerita-cerita ringan dan humoris ini mencerminkan duniawi dan bersifat menghibur, tetapi “peran mereka sebagai cerita pengajaran moral” justru menjadi poin penting (Patt, 1979). Artinya, walau terlihat sederhana, relief ini mengandung ajaran budi pekerti yang harus direnungkan.

Simbolisme air di petirtaan juga menambah dimensi spiritual. Secara umum air suci di kolam candi dianggap suci (amṛta) dan melambangkan pemurnian dan kelahiran kembali. Namun, penelitian menekankan bahwa relief Penataran tidak menampilkan simbol air suci secara eksplisit (Patt, 1979). Meskipun demikian, fungsi petirtaan sebagai tempat mandi suci tetap penting. Ritual mandi di tirta (pemandian suci) lazim di kompleks candi Majapahit dan dianggap melambangkan pemurnian jasmani dan rohani (Patt, 1979). Dengan demikian, kisah moral yang diringkas di relief Angsa dan Kura-kura dapat dipahami sebagai bahan renungan setelah ritual pembersihan fisik—penekanan pada nilai-nilai batiniah setelah menyucikan tubuh. Secara implisit, air di latar relief mengingatkan bahwa menyucikan diri juga berarti menyaring kesombongan dan mendalami kebijaksanaan.

Penutup

Relief Tantri Kamandaka yang terpahat di petirtaan Candi Penataran bukan sekadar hiasan dinding batu, melainkan cermin bijaksana dari nilai-nilai moral dan budaya yang diwariskan oleh leluhur. Melalui kisah sederhana seperti “Angsa dan Kura-kura”, relief ini menyampaikan pelajaran penting tentang kerendahan hati, kewaspadaan, dan kebijaksanaan hidup yang semua dikemas dalam bentuk yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Kehadiran kisah rakyat di tempat suci ini menunjukkan betapa erat hubungan antara ajaran budaya dan praktik spiritual dalam kehidupan masyarakat masa lampau. Seni candi menjadi media yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna. Oleh karena itu, keberadaan relief-relief seperti ini layak mendapat perhatian lebih sebagai warisan intelektual dari zaman Majapahit yang kaya akan nilai. Upaya pelestarian Candi Penataran bukan hanya soal menjaga batu-batu tua dari kerusakan, tetapi juga soal merawat pesan-pesan luhur yang terkandung di dalamnya, agar tetap hidup dan menginspirasi generasi masa kini dan mendatang.

Daftar Pustaka

Klokke, M. J. (1993). The Tantri Reliefs on Ancient Javanese Candi. KITLV Press.

Lelono, T. M. H. (2016). Relief Candi sebagai Media Efektif untuk Menyampaikan Informasi Moral-Didaktif pada Masa Jawa Kuna. Berkala Arkeologi, 36(1), 99–115.

Maruti, E. S. (2017). PEMBELAJARAN DONGENG TANTRIKAMANDAKA DALAM PELAJARAN BAHASA JAWA DI SEKOLAH DASAR. Jurnal Bidang Pendidikan Dasar, 1(1), 22–32

Patt, J. A. (1979). The use and symbolism of water in ancient Indonesian art and architecture (Doctoral dissertation, University of California, Berkeley). University Microfilms International.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.