Universitas Gadjah Mada Himpunan Mahasiswa Arkeologi
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Sejarah
  • Struktur
    • HIMA 06/07
    • HIMA 11/12
    • HIMA 14/15
    • HIMA 17/18
    • HIMA 18/19
    • HIMA 19/20
      • FILOSOFI
      • VISI MISI
    • HIMA 20/21
      • Filosofi dan Logo Kabinet
      • VISI MISI
    • HIMA 24/25
      • FILOSOFI DAN LOGO KABINET
      • VISI DAN MISI
  • Foto Kenangan
    • CKC / SKS
      • CKC 2000
      • SKS 2012
    • KKSA
      • KKSA XIII Candi Ijo 03
    • Abhiseka
      • Abhiseka 2006
      • Abhiseka Sukuh 04
      • Abhiseka 1997
      • Abhiseka 2019
      • Abhiseka 2022
      • Abihiseka 2023
  • Kegiatan HIMA
  • Artefak
    • Artefak 1984
    • Artefak 1985
    • Artefak 1986
    • Artefak 1987
      • Majalah Artefak 1987: No. 5/Januari/1987
      • Majalah Artefak 1987: No. 6/September/1987
    • Artefak 1988
    • Artefak 2014
    • Artefak 2016
    • Artefak 2017
    • Artefak 2021
    • Artefak 2022
    • Artefak 2023
  • Arkeologi UGM
  • Kontak
  • Beranda
  • HIMAPEDIA
  • Mengenal Situs-Situs Masa Neolitik dan Temuannya di Wilayah Asia Tenggara

Mengenal Situs-Situs Masa Neolitik dan Temuannya di Wilayah Asia Tenggara

  • HIMAPEDIA, Prasejarah
  • 7 August 2026, 07.41
  • Oleh: HIMA UGM
  • 0

Salma Nazihah
Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

salmanazihah2006@mail.ugm.ac.id 

Asia Tenggara merupakan salah satu bagian dari benua Asia yang terdiri dari sebelas negara. Berdasarkan bentang alamnya, seluruh negara tersebut terbagi ke dalam dua wilayah besar, yakni Asia Tenggara Daratan yang terdiri atas Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam, serta Asia Tenggara Kepulauan yang mencakup Malaysia, Singapura, Indonesia, Filipina, Brunei, dan Timor Leste. Asia Tenggara Daratan memiliki bentang alam sungai-sungai panjang, dataran rendah luas yang dipisahkan oleh perbukitan dan pegunungan, serta garis pantai yang panjang. Sementara itu, Asia Tenggara Kepulauan didominasi oleh pulau-pulau berhutan lebat yang terbelah oleh dataran-dataran tinggi, serta lautan dangkal yang ideal sebagai tempat hidup ekosistem laut (Andaya, t.t.).

Bentang alam yang bervariasi menghasilkan sumber daya alam melimpah yang mampu memenuhi kebutuhan manusia masa itu. Di saat yang bersamaan, mulai berkembang kemampuan dan pengetahuan untuk menguasai sumber daya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hasilnya, berbagai macam tumbuhan maupun hewan mulai dipelihara dan didomestikasi sehingga memunculkan kebutuhan baru untuk hidup menetap (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 2019). Keputusan untuk hidup menetap dan tidak lagi berpindah-pindah ini merupakan salah satu ciri dari dimulainya Masa Neolitik. Menurut C.J. Thomsen, Masa Neolitik merupakan fase terakhir dari Zaman Batu dalam konsep Three Age System yang dibuatnya. Masa Neolitik juga dicirikan dengan berkembangnya kemampuan mengupam atau mengasah batuan sehingga alat batu yang dihasilkan memiliki permukaan yang lebih halus dibanding masa sebelumnya. Selain itu, pada masa ini dikenal juga tradisi pembuatan gerabah yang terus dilakukan hingga masa sekarang (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 2019).

Di Asia Tenggara, Masa Neolitik diperkirakan mulai berkembang sekitar 4000 tahun yang lalu (2000 SM) setelah ditemukannya budidaya padi dan jawawut serta tradisi penguburan jenazah dalam posisi terlentang di berbagai situs permukiman awal (Higham, 2022). Ditemukan pula posthole, yaitu lubang yang digali untuk menancapkan tiang sebagai bukti dari adanya struktur bangunan atau permukiman di lokasi tersebut. Situs-situs ini ditemukan tidak hanya terbatas pada wilayah Asia Tenggara Daratan saja, tetapi juga wilayah Asia Tenggara Kepulauan.

Situs An Son di Vietnam

Situs An Son merupakan situs gundukan (mound) yang terletak di provinsi Long An; 300 m di sebelah timur Sungai Vam Co Dong. Pada situs ini, ditemukan lapisan tanah yang dibawa secara berkala dari luar situs untuk digunakan sebagai lantai hunian. Temuan ini menunjukkan bahwa Situs An Son dihuni secara berkelanjutan sejak 2300 SM hingga 1200 SM. Hal ini didukung dengan ditemukannya lubang-lubang sedalam 50 cm yang diperkirakan merupakan bekas dari pemasangan tiang-tiang rumah atau disebut juga sebagai posthole. Selain itu, ditemukan pula teknologi yang identik dengan masa Neolitik, seperti gerabah berhias (berbibir gelombang dan bergerigi) yang kerap dijadikan sebagai bekal kubur serta alat batu (kapak, beliung, dan serpih) yang telah dipoles sempurna. Terdapat juga temuan tulang babi dan anjing yang didominasi oleh usia muda menunjukkan adanya pengelolaan populasi untuk tujuan konsumsi. Tak hanya itu, temuan sisa ikan sungai menjadi temuan zoo–archaeology yang paling dominan; menunjukkan posisinya sebagai protein utama bagi masyarakat saat itu. Masyarakat An Son juga telah membudidayakan padi (Oryza sativa japonica) yang secara genetik berasal dari tradisi Neolitik di wilayah Tiongkok (Bellwood dkk., 2011).

Situs Khok Phanom Di di Thailand

Selanjutnya, terdapat Situs Khok Phanom Di yang terletak di hilir Sungai Bang Pakong yang bermuara ke pantai timur Teluk Siam. Selayaknya situs Neolitik pada umumnya, ditemukan berbagai alat batu yang telah digosok dalam bentuk beliung persegi serta posthole yang mengindikasikan pola hidup menetap. Situs ini juga terkenal akan gerabahnya yang berkualitas tinggi dengan permukaan yang halus. Selain itu, melimpahnya temuan berupa alat pancing dan pemberat jaring menunjukkan orientasi lingkungan dan ketergantungan masyarakat akan ekosistem laut. Namun, seiring berubahnya kondisi lingkungan, ditemukan pula tinggalan berupa pisau kerang yang digunakan untuk membudidayakan padi. Pada situs ini, ditemukan pula praktik penguburan yang menunjukkan aspek sosial masyarakat Khok Phanom Di berupa temuan bekal kubur sejumlah 120.000 manik-manik kerang pada “Makam 15”. Temuan tersebut menjadi bukti kuat dari adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat Khok Phanom Di (Higham, 2022).

Situs Nagsabaran di Filipina

Situs Nagsabaran terletak di Barangay Alaguia, Lal-lo, Provinsi Cagayan, tepatnya di sekitar Sungai Cagayan (Amano, 2021). Situs Nagsabaran menunjukkan fase hunian (sekitar 2000 SM) dengan temuan posthole yang memotong lapisan sampah dapur. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat pada masa itu tinggal di struktur bangunan tinggi atau rumah panggung. Meskipun telah mengenal praktik domestikasi—terbukti dengan ditemukannya sisa padi, jali-jali, dan babi domestik—masyarakat di Sungai Cagayan masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap aktivitas perburuan hewan liar. Hal tersebut ditunjukkan dengan temuan babi hutan yang jauh lebih dominan dibandingkan babi domestik serta temuan tulang rusa dan sisa ikan. Situs ini memiliki tradisi gerabah yang maju melalui temuan gerabah slip merah yang memiliki bentuk tepian yang khas dengan hiasan motif geometris. Selain itu, ditemukan pula artefak lainnya, seperti alat pemintal benang, alat pemukul kayu, beliung batu yang telah digosok halus, hingga perhiasan tubuh (Amano, 2021; Hung, 2022).

Situs Bukit Tengkorak di Malaysia

Situs Bukit Tengkorak terletak di Semporna, Sabah, Malaysia Timur (Pulau Borneo). Secara geografis, situs ini berada pada ketinggian 183 mdpl dan dekat dengan garis pantai sehingga menjadikannya tempat yang strategis bagi manusia untuk hidup (Khondaker & Akhtar, 2026). Situs Bukit Tengkorak dikenal sebagai situs pembuatan gerabah Neolitik terbesar di Asia Tenggara karena ditemukannya sisa-sisa tungku terbuka sebagai bukti dari adanya proses produksi gerabah. Selain itu, mayoritas gerabah yang ditemukan merupakan gerabah berslip merah polos dengan kombinasi berbagai teknik. Alat batunya pun merupakan industri batu kecil, seperti serpih dan bilah dengan penggunaan bahan agat, kersik, dan obsidian. Sebagian besar sampel obsidian yang ditemukan pada Fase Menengah diketahui berasal dari Talasea di wilayah Melanesia yang mengindikasikan adanya pertukaran jarak jauh di masa tersebut. Ditemukan pula kilap silika pada 12 alat kersik dan agat serta alat pemukul kulit kayu, yang menunjukkan penggunaan alat untuk mengolah tanaman lunak dan aktivitas pembuatan pakaian dari kulit kayu. Masyarakatnya sendiri sangat bergantung pada sumber daya maritim dengan konsumsi yang melimpah dari berbagai jenis ikan laut, penyu, dan moluska. Namun, ditemukan pula sisa-sisa tulang mamalia, seperti banteng, rusa, dan babi hutan yang kemungkinan diburu menggunakan tombak atau jerat oleh kelompok-kelompok kecil (Chia, t.t.).

 

Keempat situs tersebut menjadi bukti dari adanya Masa Neolitik di Asia Tenggara. Temuan dari masing-masing situs bukanlah tinggalan biasa, melainkan data arkeologis yang memiliki nilai berharga bagi perkembangan ilmu arkeologi. Hal ini juga menunjukkan posisi wilayah Asia Tenggara yang sejak masa prasejarah telah menjadi tempat akulturasi budaya yang sangat dinamis, terlebih dengan bentang alam dan posisi strategisnya. Oleh karenanya, menjadi hal yang penting bagi kita untuk mengenal, mengapresiasi, dan menghargai sejarah panjang dari ruang yang kita tinggali saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Amano, N. (2011). The Faunal Remains of Nagsabaran in Cagayan, Northern Philippines: Subsistence Strategies in the Late Holocene [Tesis, University of the Philippines Diliman].

Andaya, B. W. (t.t.). Introduction to Southeast Asia. Asia Society.  https://asiasociety.org/education/introduction-southeast-asia

Bellwood, P., Oxenham, M., dkk. (2011). An Son and the Neolithic of Southern Vietnam. Asian Perspectives, 50(1&2), 144-175.

Chia, S. (t.t.). THE PREHISTORY OF BUKIT TENGKORAK, SABAH, MALAYSIA. Journal of Southeast Asian Archaeology, 21, 146–159.

Higham, C. F. W. (2022). The Neolithic of Mainland Southeast Asia. Dalam C. F. W. Higham & N. J. Kim (Eds.), The Oxford Handbook of Early Southeast Asia. Oxford University Press.

Hung, H. C., Tsang, C. H., Deng, Z., Bolunia, M. J. L. A., Santiago, R. A., Carson, M. T., & Bellwood, P. (2022). Preceramic Riverside Hunter-gatherers and the Arrival of Neolithic Farmers in Northern Luzon. Antiquity, 96(388), 848–867.

Khondaker, M. S. I., & Akhtar, S. (2026). Ancient Pottery Artisanship of Bukit Tengkorak (Sabah): An Unpretentious Bornean Tradition. Malaysia Museums Journal, 22–40.

Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia. (2019). Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

SUMBER FOTO

 

Bellwood, P., Oxenham, M., dkk. (2011). An Son and the Neolithic of Southern Vietnam. Asian Perspectives, 50(1&2), 144-175.

eTawau.com. (2021, June 5). Skull Hill. eTawau.Com. https://www.etawau.com/PlacesInterest/SkullHill.htm

Higham, C. (2022, May 17). The princess of Khok phanom di | the past. The-Past.Com. https://the-past.com/comment/the-princess-of-khok-phanom-di/

Mattia. (2020, July 12). Asean map. Siemreapshuttle.Com. https://www.siemreapshuttle.com/southeast-asia-asean-map/#elementor-toc__heading-anchor-0

Mozardien, D. (2016, January 31). Konsensus ekspansi austronesia. The Forgotten Motherland. https://motherlanders.wordpress.com/2016/01/31/konsensus-ekspansi-austronesia/

Ningsih, W. L. (2023, December 15). Perubahan Yang Terjadi pada masa revolusi neolitik. Kompas.com. KOMPAS.Com. https://www.kompas.com/stori/read/2023/12/15/150000879/perubahan-yang-terjadi-pada-masa-revolusi-neolitik

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Universitas Gadjah Mada

Himpunan Mahasiswa Arkeologi

Departemen Arkeologi

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

 

 

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY