Kerkhoff di Jalan Yos Sudarso Sebagai Jejak Kejayaan Suikerfabriek Bandjardawa di Kabupaten Pemalang

Oleh : Siti Nur Anisa

Berada di wilayah pesisir utara pulau Jawa, kabupaten Pemalang tidak lepas dari belenggu kolonialisme Bangsa Belanda pada masa lalu. Seiring dengan diberlakukannya kebijakan Cultuurstelsel yang diperkenalkan oleh Van den Bosch pada 1830, perkebunan tebu dan pabrik gula tumbuh subur di Pemalang. Beberapa pabrik gula yang pernah beroperasi di Pemalang yaitu, Sumberharjo, Petaroekan, Bandjardawa dan Tjomal. Namun, pada kisaran permulaan tahun 1930-an saat krisis malaise menyerang dunia, pertumbuhan dan industri pabrik gula mulai lesu. Selain itu berbagai faktor-faktor lainnya yang terjadi pada tiap- tiap pabrik turut memperparah keadaan. Hingga pada akhirnya pabrik-pabrik yang ada terpaksa harus berhenti beroperasi dan ditutup. Sehingga pada akhirnya kebanyakan bangunan-bangunan bekas pabrik gula yang ada menjadi bangunan terbengkalai pada masa setelahnya.

Salah satu pabrik gula yang pernah didirikan di Kabupaten Pemalang adalah Pabrik Gula Banjardawa atau Suikerfabriek Bandjardawa. Pabrik ini berlokasi di Desa Banjardawa, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Pabrik gula ini dibangun pada tahun 1846, dan menjadi pabrik gula terbesar di Pemalang pada saat itu. Keberadaan pabrik gula ini kerap kali termuat dalam berbagai buku dan surat kabar terbitan pemerintah Hindia Belanda. Misalnya buku Tijdschrift Voor Nederland’s Indie, Surat Kabar Javasche Courant pada tahun 1850, serta buku Adresboek Van Nederlandsch-Indië Oleh Voor Den Handel pada tahun 1884.

 

Figure 1 Pabrik Gula Bandjardawa, 1926. (KITLV 7718)
Figure 2 Klinik Pabrik, 1926. (KITLV 7724)

Setelah beberapa lama beroperasi, pada tahun 1888, bangunan pabrik direnovasi total oleh Javasche Cultuur Maatschappij. Selain renovasi bangunan dengan memperbesar bangunan yang telah ada, dilakukan pula penambahan kelengkapan berupa mesin-mesin, peralatan produksi, dan fasilitas pendukung lainnya. Pembangunan pabrik juga dilakukan kembali pada tahun-tahun setelahnya, seperti pada tahun 1912. Tahun 1932, saat krisis malaise merebak, Pabrik Gula Banjardawa mengalami penurunan produksi, hingga berhenti beroperasi pada pertengahan tahun 1932. Dua tahun setelahnya yaitu tahun 1934 pabrik gula ini kembali dioperasikan, namun dengan hasil produksi yang sangat kecil jika dibandingkan dengan hasil produksi saat masa jaya pabrik ini.

Tahun 1947 saat Belanda kembali datang ke Indonesia dan melakukan agresi militer Belanda 1, Pabrik Gula Banjardawa kembali dikuasai Belanda. Namun, masyarakat Pemalang saat itu tidak diam saja, mereka berusaha melakukan serangan di area sekitar pabrik untuk mengusir pihak Belanda

Puncaknya terjadi pada 1949, dimana terjadi penyerangan besar-besaran terhadap pihak Belanda di sekitar Pabrik Gula Banjardawa yang mengakibatkan terbunuhnya beberapa orang Belanda, serta perusakan dan penjarahan isi pabrik oleh warga Pemalang sendiri. Hal ini bertujuan agar Pabrik Gula Banjardawa tidak lagi dikuasai dan dijadikan pangkalan oleh orang-orang Belanda. Akibat peristiwa ini bangunan pabrik hancur lebur.

Saat ini keberadaan bangunan bekas Pabrik Gula Banjardawa memang sudah tidak dapat ditemui lagi. Keberadaan pabrik ini seakan menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Area bekas pabrik sendiri dialihfungsikan sebagai area pemukiman warga, lapangan desa, dan sekolah-sekolah. Sekolah yang berdiri di lahan bekas pabrik gula ini yaitu SMP Negeri 1 Taman, SMP Negeri 2 Taman, SMP PGRI 3 Taman, dan SD Negeri 02 Banjardawa. Nampaknya jejak yang tertinggal dari pabrik gula Banjardawa hanyalah keberadaan makam Belanda atau kerkhoff yang oleh warga sekitar disebut “Tugu Tuan Lecek”.

 

Figure 3 Situs Makam Belanda Pemalang. (Anisa, 2021)

Tugu Tuan Lecek “Letjie” sendiri merupakan situs makam Belanda yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Widuri. Di area pemakaman ini sendiri terdapat lima buah makam. Empat makam berada di dalam pagar, sedangkan satu makam berada di luar pagar. Namun, sayang dari lima makam yang ada hanya dua makan saja yang masih dalam keadaan terawat dan dapat dibaca epitafnya. Sedangkan,

tiga makam lainnya berada pada keadaan rusak yang cukup parah. Selain itu di area pemakaman ini terdapat bangunan tugu penanda yang dibangun di tengah area pemakaman.

Makam pertama yang dapat dibaca epitafnya berada di dalam pagar dengan keterangan tulisan “hier rust arie van baak geboren 22 mei 1883 overlanden 22 october 1907 zijne vrienden bandjardawa”. Sedangkan makan kedua yang dapat dibaca epitafnya terletak di luar pagar dengan keterangan tulisan “rustplaats van de familie van rossum”. Untuk makam pertama bila epitafnya diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia akan diperoleh informasi “disini bersemayam Arie Van Baak lahir 22 mei 1883 meninggal 22 oktober 1907 sahabatnya banjardawa”. Sedangkan, terjemahan untuk makam kedua yaitu “tempat peristirahatan keluarga van rossum”.

Setelah ditelusuri, tokoh bernama Arie van Baak ini merupakan seorang pengawas lapangan bagian pemotongan di pabrik gula Banjardawa. Bahkan berita kematiannya pun dimuat dalam surat kabar Soerabaijasch Handelsblad terbitan oktober 1907. Dimana dalam surat kabar tersebut dituliskan bahwa ia meninggal dikarenakan tenggelam saat sedang mandi di Sungai. Mengingat waktu penerbitan surat kabar dan tanggal kematian yang tertulis pada makam memiliki rentang waktu yang berdekatan, mungkin tokoh bernama Arie Van Baak yang dimaksud adalah tokoh yang sama.

Sedangkan, makam kedua dengan tulisan “makam keluarga Van Rossum” tidak memuat dengan jelas siapa tokoh yang termasuk dari bagian keluarga ini yang dimakamkan disini. Sehingga, tidak dapat diidentifikasi peranannya dalam kegiatan industri di pabrik gula Banjardawa. Namun pada surat kabar De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad yang terbit pada 13 januari 1882 dituliskan tentang kelahiran anggota keluarga Van Rossum yaitu A. F. Van Rossum di Banjardawa pada 31 desember 1981. Serta, pada surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië terbitan 31 Desember 1920 tertulis berita terkait tokoh bernama C. W. E. Van Rossum yang meninggal di

pekalongan. Dimana ia adalah seorang administratur di pabrik gula Bandjardawa. Kedua surat kabar ini menunjukkan bahwa memang keluarga Van Rossum memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan pabrik gula banjardawa. Terlepas dari siapa nama tokoh sebenarnya dari keluarga Van Rossum yang memiliki makam ini.

 

Makam Arie van Baak
Figure 4 Makam Arie van Baak. (Anisa, 2021)

 

Daftar Pustaka :

 

Handel, Voor den. (1884). Adresboek Van Nederlandsch-Indië. Rotterdam:      Nijgh & Van Ditmar. Akses dari https://www.delpher.nl/

Jaar, G. Het. (1846). Algemeen Overzigt Van Den Toestand Van Nederlandsch Indie. Tulisan pada Tijdschrift voor Neerland’s Indie. Akses dari https://www.delpher.nl/

Poesponegoro, Marwati Djoened. & Notosusanto, Nugroho. (2010). Sejarah Nasional Indonesia V (Edisi Pemutakhiran). Jakarta: Balai Pustaka

Savitri, Mimi. & Larasati, Dhiana Putri. (2021). Warisan Budaya Industri Gula di Kabupaten Pemalang. Tumotowa. 4(2). 79-94. DOI : 10.24832/tmt.v4i1.98

Wekelijksch financieel overzicht voor Neerlandsch Indie. (1890, 10 Maret). Tulisan pada Bataviaasch Nieuwsbald. Akses dari https://www.delpher.nl/

Delpher.nl. (1850, 20 Februari). Derde Bijvoegsel Der Javasche Courant. Tulisan pada Javasche Courant. Akses dari https://www.delpher.nl/

Delpher.nl. (1949). Employe Van Suikerfabriek door Extremisten Vermoord. Tulisan pada Algemeen Handelsblad. Akses https://www.delpher.nl/ 

Het algemeen kerkhofje te Pemalang kampung Widuri. Akses dari https://www.imexbo.nl/pemalang-widuri.html

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.