Temuan Prasasti Gemekan: Impresi Warganet pada Unggahan Akun Instagram @ussfeeds

Temuan Prasasti Gemekan di Mojokerto terlampau menggemparkan dibanding temuan arkeologis lain di awal tahun 2022. Prasasti ini sebenarnya layaknya prasasti berhuruf Jawa Kuno pada umumnya yang berisikan perihal tanah (sīma). Namun, karena gencarnya penyebaran informasi temuan prasasti oleh komunitas pegiat aksara dan pencinta kekunoan, temuan ini mendapat banyak perhatian bahkan oleh masyarakat yang awam dengan permasalahan arkeologi. Banyak media populer mengabarkan penemuan ini sehingga menambah luas jangkauan berita.

Mengingat luasnya pemberitaan penemuan Prasasti Gemekan, menarik untuk ditelisik mengenai impresi komunitas maya terhadap penemuan ini. Salah satu ruang maya populer adalah media sosial Instagram. Dilansir dari Survei Jakpat yang digelar oleh Tempo (Javier, 2021), pada semester I tahun 2021, Youtube menempati urutan pertama sebagai media sosial terpopuler disusul Facebook dan Instagram berada di urutan kedua dan ketiga dengan persentase yang sama. Instagram menjadi ruang berkembangnya banyak media populer yang memberitakan peristiwa aktual ala anak muda. Salah satunya adalah akun @ussfeeds yang turut mengunggah berita penemuan Prasasti Gemekan pada 12 Februari 2022. Unggahan ini mendapat 45.472 suka dan 527 komentar per 1 Mei 2022. Jangkauan yang luar biasa untuk sebuah informasi arkeologi.

 

Temuan Prasasti Gemekan untuk Arkeologi

Gambar 1. Ekskavasi Prasasti Gemekan. Sumber: National Geographic

    Prasasti secara literal berarti piagam (charter)1. Pengertian prasasti berubah pada masa yang lebih kemudian. Prasasti diartikan sebagai tulisan kuno yang dipahatkan di batu, logam, atau daun tal (lontar) (Ayatrohaedi et al., 1981). Penerbitan prasasti berkaitan dengan hak dasar penguasa yang meliputi drěwya haji, buat haji atau gawai haji, dan anugraha (Van der Meer, 1979). Mayoritas prasasti memberitakan penetapan sīma atau tanah perdikan yang merupakan bagian dari anugraha raja. Sebab-sebab tanah ditetapkan menjadi sīma salah satunya adalah karena ada pembangunan bangunan suci. Tanah di sekitar bangunan akan dibebaskan dari pajak sehingga dapat digunakan untuk merawat bangunan tersebut. Selain itu, terdapat pula prasasti yang memuat kewarganegaraan (jayapāttra), putusan pengadilan sengketa tanah (jayasong), utang-piutang, dan bahkan hanya memuat beberapa huruf atau angka tahun.

Prasasti Gemekan yang ditemukan pada awal tahun 2022 memuat informasi tentang pembelian tanah yang akan digunakan untuk membangun bangunan suci. Prasasti Gemekan dikeluarkan pada masa pemerintahan Mpu Sindok pada tahun 852 Saka, yaitu ketika Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah telah berpindah ke Jawa Timur. Prasasti ini melengkapi bagian sejarah perpindahan Kerajaan Mataram Kuno yang pada beberapa bagian masih rumpang. Di dalam prasasti disebutkan bahwa nama daerah tanah yang dibeli ini adalah Masahar, di Watek Padang. Pada baris keempat jelas ditegaskan bahwa tanah (sawah) seluas 3 tampah yang dibeli seharga emas 3 kati dan 5 suwarṇa ini hendaknya dijadikan sīma karena diibangun bangunan suci (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, 2022). Selain menggenapi sejarah rumpang pada era Mataram Kuno, Prasasti Gemekan juga memberikan penegasan kekayaan lapisan kebudayaan pada wilayah Mojokerto. Selama ini wilayah Mojokerto memang identik dengan Kerajaan Majapahit yang didukung oleh temuan-temuan besar serta padat di Kecamatan Trowulan dan sekitarnya.

 

Impresi Warganet Tentang Prasasti Gemekan di Unggahan @ussfeeds

Pemberitaan yang menghebohkan dari dunia epigrafi ini turut disokong dengan publikasi-publikasi populer. Unggahan @ussfeeds tentang Prasasti Gemekan mendapat banyak tanggapan dari warganet. Dari 527 komentar per 1 Mei 2022, terdapat beraneka ragam impresi yang diberikan warganet terhadap temuan ini. Sebanyak 150 komentar paling populer diambil untuk sampel identifikasi dan klasifikasi jenis impresi warganet. Dari 150 komentar tersebut akan diklasifikasikan menjadi lima (5) kelompok impresi. Lima kelompok ini ditentukan dari kata kunci (keyword) yang sering muncul pada komentar. Lima kelompok tersebut meliputi: (1) komentar terhadap temuan prasasti, (2) terkait poneglyph dalam serial Jepang One Piece, (3) terkait serial Jepang Naruto, (4) terkait plesetan bahasa pemrograman Javascript, dan (5) lain-lain.

Hasil klasifikasi berdasarkan kelompok tersebut adalah sebagai berikut. 47 komentar termasuk dalam kelompok (1) dengan variasi komentar tentang kerapian penulisan/teknologi, pengalaman yang diperoleh saat melihat unggahan, menerka asal daerah tulisan dan isi prasasti, media tulis, pujian terhadap prasasti, serta tempat penemuan. 77 komentar termasuk kelompok (2) dengan kata kunci “One Piece”, “poneglyph”, “Joy Boy”, “Ohara”, “Nico Robin”, dan beberapa kata kunci lain. 7 komentar termasuk dalam kelompok (3) dengan kata kunci “Uchiha”, “Zetsu hitam”, dan beberapa kata kunci lain. 7 komentar termasuk dalam kelompok (4) dengan kata kunci “Javascript” dan “programmer”. Kemudian, 12 komentar termasuk kelompok (5), yaitu lain-lain. Persentase klasifikasi ini dapat dilihat pada diagram berikut ini.

Gambar 2. Diagram impresi warganet terhadap unggahan tentang Prasasti Gemekan di akun @ussfeeds

 

Pekerjaan Rumah Bagi Dunia Arkeologi

Dari hasil identifikasi dan klasifikasi 150 sampel komentar pada unggahan @ussfeeds tentang Prasasti Gemakan, dapat disimpulkan bahwa hal pertama yang terlintas di pikiran mayoritas warganet adalah Serial Jepang berjudul One Piece, bukan justru Prasasti sebagai sumber sejarah yang penting seperti yang telah diuraikan pada sub bagian “Temuan Prasasti Gemekan untuk Arkeologi”. Hal ini tentu menjadi persoalan tersendiri ketika ingatan masyarakat pada prasasti sebagai bagian dari kebanggaan bangsa justru berada dalam urutan kesekian. Masyarakat (pengguna Instagram) ternyata lebih mengingat serial hiburan daripada tentang prasasti itu sendiri–terlepas dari tendensi bercanda dibalik komentar.

Hasil penelisikan sederhana ini dapat menjadi refleksi bagi dunia arkeologi untuk dapat menyajikan bahan yang menarik bagi publik. Idealnya, arkeologi mengharapkan bahwa ketika ada konten tentang prasasti maka impresi pertamanya adalah tentang prasasti itu sendiri mulai dari tulisan, bahasa, isi, kebudayaan masa lampau, dan lain sebagainya. Namun, kenyataannya masyarakat memiliki impresi yang berbeda karena informasi tentang prasasti tidak membekas dalam benak mereka. Oleh karena itu, konten-konten arkeologi perlu digencarkan secara kualitas dan kuantitas. Pembuatan konten-konten tersebut tentu dengan melihat tren yang sedang naik agar semakin menarik minat masyarakat yang sangat awam pada dunia arkeologi.

 

_____________

1Alih bahasa dibantu http://sealang.net/ojed/ yang merupakan proyek Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV)

Ditulis Oleh: Devina Ocsanda

 

Referensi

Ayatrohaedi, Wibowo, A. S., Wuryantoro, E., Jafar, H., Magetsari, N., & Nurhadi, S. (1981). Kamus Istilah Arkeologi I. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. (2022). Pembacaan Prasasti Gemekan Bagian Sisi Depan, Mojokerto.

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/pembacaan-prasasti-gemekan-bagian-sisi-depan-mojokerto/.

Javier, F. (2021). Survei Jakpat: Youtube Jadi Medsos Terpopuler di Indonesia pada Semester 1 2021 Meski Penggunaannya Menurun. Tempo. https://data.tempo.co/data/1202/survei-jakpat-youtube-jadi-medsos-terpopuler-di-indonesia-pada-semester-1-2021-meski-penggunaannya-menurun.

Van der Meer. N. C. S. (1979). Sawah Cultivation in Ancient Java. Australian National University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.