Karya : Kana Mauiza Muhasibi
Kota Surakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa memiliki banyak sekali warisan budaya, baik yang bersifat Benda maupun Takbenda. Warisan budaya tersebut mencakup yang sudah diakui dunia dan nasional maupun yang belum diakui. Salah satu warisan budaya takbenda yang belum diakui dari Kota Surakarta adalah Tradisi Grebeg Sudiro, adanya tradisi ini dipengaruhi oleh sejarah panjang keberadaan etnis Tionghoa di Kota Surakarta.

Grebeg Sudiro merupakan tradisi tahunan yang namanya diambil dari salah satu kelurahan di Surakarta, yakni Sudiroprajan. Kelurahan Sudiroprajan merupakan wilayah pusat Pecinan di Surakarta yang terletak di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro (ke arah timur dan utara), wilayah tersebut memang dipusatkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk etnis Tionghoa sejak abad ke-19 dikarenakan tingginya imigrasi akibat perdagangan di Surakarta, kebijakan oleh pemerintah kolonial terhadap kelompok etnik tersebut adalah mewajibkan mereka untuk melangsungkan adat istiadat dari tempat asal mereka sehingga kelangsungan budaya akan terus terjaga, keberadaan beberapa orang Jawa di Sudiroprajan sebelum kedatangan etnis Tionghoa menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat interaksi dan percampuran dua kebudayaan (Hakim, 2020, hlm. 4). Interaksi dan hubungan masyarakat serta kebudayaan yang sudah terjalin sejak lama membawa dampak positif bagi wilayah Sudiroprajan, wilayah tersebut menjadi tempat paling aman bagi etnis Tionghoa selama masa krisis 1998, etnis Jawa di sekitar Kelurahan Sudiroprajan menjadi tameng bagi orang-orang Tionghoa yang berlindung di dalam kampung dari kerusuhan di Kota Surakarta (Hakim, 2020, hlm. 5).
Grebeg Sudiro kemudian menjadi sarana penambah kerekatan hubungan antara etnis Jawa dengan Tionghoa, tradisi yang berlangsung sejak tahun 2007 ini awalnya merupakan perayaan untuk hari ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro (12 Januari), mulanya etnis Tionghoa tidak banyak berpartisipasi dalam kegiatan ini dikarenakan masih adanya trauma akibat tragedi kerusuhan 1998, tetapi pada Grebeg Sudiro tahun 2009 etnis Tionghoa di Sudiroprajan sudah aktif mengikuti kegiatan ini sehingga pada tahun berikutnya kegiatan ini ditetapkan sebagai event tahunan Kota Surakarta dan diselenggarakan sebagai perayaan Tahun Baru Imlek (Tjahjono, 2025).

Grebeg Sudiro merupakan akulturasi dari budaya Jawa dan Tionghoa, yang mana “grebeg” sendiri adalah kata dari Bahasa Jawa yang berarti “keramaian” atau “perayaan” dan pada tradisinya identik dengan acara kirab dan gunungan, ciri kebudayaan Tionghoa pada grebeg ini tampak pada ornamen khas Tionghoa yang menghiasi area Pasar Gede selama rangkaian acara, makanan khas Tionghoa, hingga seni pertunjukan Barongsai yang ikut ditampilkan pada kirab budaya (Azzahra & Puspitasari, 2023, hlm. 32; Pradipta & Satiti, 2024, hlm. 70).


Grebeg Sudiro sejatinya merupakan pengembangan dari tradisi serupa yang sudah ada sebelumnya, yakni “Sedekah Bumi Bok Teko” yang merupakan tradisi syukuran menjelang Imlek dan sudah dirayakan sejak masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono X (1893-1939). Grebeg Sudiro sendiri merupakan event yang memiliki dua kegiatan utama, yakni sedekah bumi dan kirab budaya, di samping itu juga ada agenda-agenda pendukung lain. Pada tahun 2025 ini rangkaian Grebeg Sudiro telah selesai digelar pada tanggal 16 hingga 28 Januari dan menawarkan berbagai experience, mulai dari Umbul Mantram yang menjadi pembuka rangkaian kegiatan dengan sedekah bumi yang diwujudkan dalam iring-iringan dua Gunungan Jodang (Wadon dan Lanang) yang dilengkapi sesaji lainnya (palawija, hewan unggas, tumpeng, alang-alang, sayuran, buah, dan nasi kuning) serta ditutup dengan doa bersama, selama 17-31 Januari juga terdapat bazar di sekitar jalan Pasar Gede dan Balaikota serta wahana Perahu Wisata yang dapat dinaiki menyusur Kali Pepe (Vinta, 2025; Tjahjono, 2025).


Puncak acara Grebeg Sudiro diwarnai dengan Karnaval Budaya pada tanggal 26 Januari yang banyak menampilkan pertunjukan seni dan budaya (kostum beraneka ragam, alunan musik, hingga tarian tradisional) dalam kirab mengelilingi Kelurahan Sudiroprajan yang dimulai dari depan Pasar Gede Hardjonagoro, kemudian bergerak ke selatan melewati Jl. Jend. Sudirman, berbelok ke timur melalui Jl. Mayor Kusmanto, kemudian ke utara melewati Jl. Kapten Mulyadi, berbelok lagi ke timur di Jl. RE. Martadinata hingga menemui persimpangan dan belok ke utara melalui Jl. Cut Nyak Dien, kemudian bergerak ke barat di Jl. Ir. Juanda, sebelum akhirnya melewati Jl. Jend. Urip Sumoharjo hingga kembali ke titik awal. Dalam Karnaval Budaya ini juga dilakukan iring-iringan 4000 buah Kue Keranjang yang menjadi makanan khas Imlek beserta hasil bumi lain dalam bentuk gunungan (Jodang) yang diperebutkan di pemberhentian terakhir, event ini kemudian ditutup dengan pesta kembang api pada malam Tahun Baru Imlek tanggal 28 Januari 2025 (Tjahjono, 2025).
Sebagai sebuah tradisi, Grebeg Sudiro haruslah diakui sebagai suatu Warisan Budaya Takbenda dan wajib untuk dilestarikan, meskipun pelaksanaannya belum terlalu lama, tetapi tradisi ini telah mewakili nilai historis yang kuat dengan adanya Sedekah Bumi Bok Teko sebagai budaya pendahulu dan sejarah panjang hubungan harmonis antara kebudayaan Jawa dengan Tionghoa di Kota Surakarta yang sudah berlangsung sejak masa kolonial hingga saat ini. Grebeg Sudiro juga kental dengan representasi masing-masing kebudayaan Jawa dan Tionghoa dalam rangkaian kegiatannya, seperti kirab dan gunungan yang memang menjadi tradisi Jawa saat acara grebeg, ataupun ornamen hiasan seperti lampion, makanan seperti kue keranjang dan bakpao, hingga kesenian seperti Barongsai yang semuanya merupakan tradisi turun-temurun dari masa lalu, meskipun kebudayaan tersebut sama sekali berbeda dari pendahulunya, tetapi dapat saling melengkapi dan berbaur hingga menjadi suatu tradisi baru yang padu, hal tersebut yang menjadikan Grebeg Sudiro sebagai suatu warisan budaya yang unik.
Tradisi Grebeg Sudiro juga semakin inklusif, dari yang sebelumnya hanya dijalankan oleh masyarakat sekitar Sudiroprajan hingga kini menjadi event besar di Kota Surakarta yang mengikutsertakan ribuan seniman dan banyak pihak untuk meramaikan rangkaian kegiatannya. Tradisi ini pun semakin terkenal di kalangan masyarakat luas bahkan hingga ke luar wilayah Surakarta, Grebeg Sudiro tidak lagi dianggap sebagai wajah dari Sudiroprajan saja, tetapi sudah menjadi wajah dari Kota Surakarta itu sendiri sebagai kota yang harmonis dan toleran. Sense of belonging masyarakat terhadap tradisi ini juga semakin kuat dan luas, dari yang sebelumnya hanya masyarakat Kelurahan Sudiroprajan hingga kini seluruh masyarakat Kota Surakarta merasa memiliki dan menjadi bagian dari tradisi ini.
Grebeg Sudiro yang sudah diakui dan ditetapkan oleh Pemerintah Kota Surakarta sebagai event tetap tahunan juga menunjukkan bahwa kegiatan ini merupakan tradisi yang penting dan sarat akan nilai-nilai kebudayaan, histori, serta harmoni yang patut dijaga kelestariannya. Tradisi ini layak pula untuk dilindungi keberlangsungannya dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), bukan hanya karena nilai-nilai yang terkandung, tetapi juga tradisi ini sendiri yang telah memenuhi kriteria Warisan Budaya Takbenda menurut UNESCO. Pengakuan Tradisi Grebeg Sudiro sebagai Warisan Budaya Takbenda ke depannya akan menjadi keuntungan strategis bagi Kota Surakarta, selain tetap menjaga harmonisasi dalam hubungan sosio-kultural masyarakatnya dengan keberlanjutan tradisi, tetapi juga menguntungkan secara ekonomis karena pengakuan warisan budaya tersebut dapat menjadi branding baru bagi Kota Surakarta sebagai kota yang harmonis, toleran, dan berbudaya sehingga dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke kota.
Daftar Pustaka
Publikasi Ilmiah
Azzahra, A., & Puspitasari, A. (2023). The Role of Chinese Ethnic in Grebeg Sudiro: A Historical Perspective. Journal of Maobi, 1(1), 28–33. https://doi.org/10.20961/maobi.v1i1.79695
Hakim, L. D. R. (2020). Grebeg Sudiro dan Representasi Keberagaman di Sudiroprajan, Kota Surakarta. Indonesian Journal of Religion and Society, 2(1), 1–11. https://doi.org/10.36256/ijrs.v2i1.74
Pradipta, M. P. Y., & Satiti, E. N. (2024). Pengelolaan Kampung Pecinan Sudiroprajan Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Surakarta. Jurnal Pariwisata Terapan, 8(1), 64–75. https://doi.org/https://dx.doi.org/10.22146/jpt.71227
Website
Vinta, V. (2025, January 16). Rangkaian Agenda Grebeg Sudiro 2025: Meriahkan Semangat Grebeg dan Imlek di Kota Solo. DISKOMINFO SP KOTA SURAKARTA. https://diskominfosp.surakarta.go.id/detail-berita/rangkaian-agenda-grebeg-sudiro-2025-meriahkan-semangat-grebeg-dan-imlek-di-kota-solo-2714
Wawancara
Basoeki Tjahjono. Wawancara pribadi. 11 April 2025, Kelurahan Sudiroprajan.