[RILIS ACARA] Syukur(i)n #2; Sasporte Telah Usai

Minggu (01/5)- Tidak seperti hari Minggu biasanya, pada sore hari sekitar pukul 17.20 WIB Pelataran Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya ramai oleh sekumpulan mahasiswa Arkeologi UGM. Divisi Minat dan Bakat atau Mikat HIMA mengadakan acara Syukur(i)n Sasporte Telah Usai. Ini merupakan acara Syukururan ‘ala’ HIMA yang diubah menjadi Syukur(i)n untuk waganing HIMA yang telah berpartisipasi mengikuti Sasporte (Sastra Sport Event) bulan April lalu.

Beberapa perlombaan berhasil dimenangkan. Farid Aditya (Arkeologi 2013) berhasil memenangkan tiga pertandingan Bulutangkis. Juara I untuk Tunggal Putra, Juara I Ganda Campuran bersama Riana (Arkeologi 2013). Juara I Ganda Putra bersama Zarul (Arkeologi 2013). read more

[RILIS ACARA] Pelatihan Fotogrametri Jarak Dekat; Pemodelan Objek Tiga Dimensi

Sabtu (2/4) – Divisi P3M HIMA mengadakan pelatihan fotogrametri jarak dekat (close range photogrammentry) untuk mahasiswa Arkeologi UGM di Gedung Margono 303, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga pukul 14.00 WIB itu dipandu oleh tiga orang mahasiswa jurusan Teknik Geodesi UGM. Mereka adalah Irfan Ammar, Akhmad Faizal, dan Rudi Asdi Yanto.
Sebelum acara dimulai, semua peserta pelatihan menginstall softfile yang mendukung kegiatan pelatihan di laptopnya masing-masing. Kemudian, Mas Irfan yang menjadi pemateri menyampaikan beberapa pengantar mengenai kamera, dan fotogrametri.
Fotogrametri jarak dekat merupakan fotogrametri non pemetaan, dimana pembentukan image-nya dilakukan pada jarak kurang dari 100 meter. Prinsip dasar fotogrametri jarak dekat ini adalah model tiga dimensi (3D) yang bisa dimanfaatkan pada disiplin ilmu arkeologi, seperti pada pemotretan arca; arkeolog bisa mendokumentasikan arca dalam bentuk 3D sehingga terlihat lebih nyata. Oleh karena itu, P3M mengadakan pelatihan ini, karena merupakan hal yang tidak terdapat di mata kuliah arkeologi.
Pembentukan model 3D pada kegiatan ini dimulai dari pengenalan smartpoints pada perangkat lunak Photomodeler Scanner. Semakin banyak titik smartpoint yang dikenali makan semakin menghasilkan output yang baik. Titik-titik tersebut selanjutnya akan dihubungkan secara otomatis pada perangkat lunak yang akan menghasilkan bentuk jaring segitiga yang disebut TIN (Triangulated Irregular Network). TIN adalah salah satu metode untuk mempresentasikan suatu surface (permukaan) dalam bentuk jaring-jaring segitiga. Dalam pembentukan TIN dibutuhkan setidaknya enam titik yang dapat digunakan untuk pembentukan jaring segitiga. Tiga titik berada pada node sebagai jung sisi-sisi segitiga dan tiga titik lainnya merupakan titik luar yang membentuk jarring segitiga lain. Jaring-jaring segitiga tersebut tersusun oleh garis-garis yang salih berhubungan yang disebut vertex.
Hal yang penting dalam pembuatan objek 3D adalah kalibrasi kamera. Koreksi kalibrasi kamera bisa menggunakan perangkat lunak Photomodeler Sacnner dengan melakukan pemotretan lembar kalibrasi kemudian mencari nilai parameter kalibrasi kamera. Program akan secara otomatis mengkoreksi kalibrasi kamera. Sehingga saat melakukan input foto, foto tersebut akan dikoreksi secara otomatis oleh perangkat lunak ini. Hasilnya ada bagian hitam di setiap sisi foto.
Pengambilan foto juga mempengaruhi pembuatan objek 3D. Mas Irfan sebagai pemateri mengajarkan peserta pelatihan tips dan trik pengambilan foto. Foto yang diambil harus dengan ukuran iso yang sama, ukuran yang sama, dan kecepatan pengambilan yang sama. Intinya dalam pengambilan foto pengaturan fot pertama harus sama dengan foto berikutnya.
Pengambilan foto dilakukan secara menyeluruh pada objek gambar. Memotret mengelilingi sebuah objek . Kondisi pemotretan yang baik: untuk objek yang kecil, dapat menggunakan meja putar, foto yang di hasilkan harus overlap minimal 50-60%, pemotretan pada cahya yang dating dari segala arah, udahakan tidak memakai lampu, cahaya alami dari sinar matahari, jika diluar ruangan usahakan saat keadaan berawan.
Pemodelan foto menjadi objek 3D gampangnya memakai perangkat lunak Agisoft. Hanya menginput foto yang telah diambil mengelilingi objek kemudian melakukan beberapa tahapan di perangkat lunak tersebut, dan secara otomatis program akan membaca gambar dan menghasilkan titik-titik yang berubah menjadi objek 3D. Semakin banyak foto yang diambil dan semakin tinggi akurasi prosen, maka hasil objek 3D akan semakin lebih baik.
Peserta pelatihan dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian diberi tugas untuk memotret sebuah objek. Beberapa kelompok memotret arca-arca yang ada di depan gedung Margono, sebagian yang lain memotret arca-arca di depan perpustakaan. Hasil jepretan tersebut di input ke perangkat lunak Agisoft dan secara otomatis program merubah beberapa hasil jepretan menjadi objek 3D.
Selama pelatihan, peserta didampingi oleh Mas Taufiqqurahman Setiawan, alumni dari arkeologi UGM juga. Di akhir acara beliau mengatakan bahwa fotogrametri dapat dimanfatkan dalam disiplin ilmu arkeologi. Salah satunya pada saat ekskavasi. Akan lebih baik jika kotak ekskavasi dibuat gambar 3D-nya. Selain itu fotogrametri juga bisa digunakan saat pemotretan arca, atau relief pada candi. Gambar 3D yang dihasilkan bisa digunakan sebagai backup, pedoman dan data yang tidak akan hilang; karena baik arca maupun relief lama-kelamaan mungkin akan aus dan bisa jadi menghilang.IMG_9541 - Copy IMG_9551 - Copy IMG_9653 read more

[RILIS ACARA] PENDATAAN KERKHOFF DIVISI P3M HIMA

DSC_0782DSC_0879 DSC_0820 DSC_0787Pada hari Minggu (20/3) , Divisi P3M bersama Warganing HIMA lainnya mengadakan pendataan kerkhoff di TPU Sasana Laya, Yogyakarta. Tempat pemakaman ini terletak di Jl. Ireda, tepat di sebelah Purawisata.

Di TPU Sasana Laya terdapat makam Islam, Kristen, Tionghoa dan yang paling menarik adalah makam Belanda. Pemakaman ini masih aktif dan kadang masih didatangi peziarah. Namun ada juga makam-makam yang terlantar dan difungsikan sebagai tempat “bersantai” para penjaga makam. Beberapa kerkhoff digunakan untuk menjemur pakaian, bahkan untuk menaruh barang-barang bekas. read more

[RILIS DISKUSI BULANAN HIMA] Gothic, now and then; dari Artefak hingga Fashion

Gothic, Now and Then
Dari Artefak Hingga Fashion

Pembicara : Dr. Suzie Handajani, M.A (Dosen Antropologi Budaya FIB UGM)
Moderator: Tyassanti Kusumo Dewanti
Notulen : Sheila Ayu Rachmadiena & Irfan Waskitha Adi
Kamis (17/03) pukul 16.30, diskusi bulanan perdana HIMA baru saja dimulai. Peserta memasuki M404 sembari membawa teh panas dan aneka camilan, tak terkecuali pula pembicara kita sore itu, Mbak Suzie, yang juga turut memasuki ruangan. Kegiatan diskusi diawali dengan menata kursi membentuk lingkaran supaya hawa diskusi lebih hidup dan lebih interaktif.
Bermula dari brainstorming bersama Mbak Suzie perihal kepenulisan dan critical thinking, kemudian muncullah Gothic yang menjadi salah satu studi kasus tentang pemaknaan manusia yang berbeda-beda terhadap suatu hal, Gothic yang mengalami perubahan makna dari masa ke masa. Dimulai sekitar abad 12 yang ditandai munculnya bangunan gereja megah khas arsitektur Gothic dengan jendela-jendela besar nan tinggi, kaca warna-warni (bertujuan untuk memperbanyak cahaya yang masuk kedalam gereja) dan aksen frame runcing yang biasanya dijumpai di atas pintu (untuk menahan tekanan berat dari atas). Sebenanya asal nama gothic muncul setelah tren arsitektur gereja tersebut sudah tidak begitu populer. Ketika ada beberapa kalangan yang masih membangun gereja model tersebut, mereka dianggap menyimpang dan kemudian istilah gothic pun sering dilontarkan. Istilah ini sendiri merupakan hasil dari adanya penyimpangan atau pemberontakan dari arus utama.
Pada masa sesudah itu, mulailah muncul beberapa literatur berlatarkan ‘gereja’ tersebut dengan cerita seram dan menakutkan. Hingga kini literatur berlatar bangunan gothic pun masih dapat kita jumpai, sebagai contoh Frankenstein atau pun Drakula, malah kemudian sudah banyak pula yang ditayangkan menjadi sebuah film. Melalui fase ini, Gothic mulai dimaknai sebagai segala sesuatu yang berbau supranatural dan gelap. Selain literatur, muncul pula fashion Gothic yang gelap, hitam, berkesan misterius dan melahirkan sebuah konsep dark beauty dengan make up pucat, sentuhan pada pipi yang menegaskan garis rahang, eyeliner serta tak lupa lipstik yang gelap. Hingga saat ini, manifestasi Dark beauty juga masih bisa kita jumpai pada beberapa film, seperti Maleficent, Snow White and The Huntsman dan lain-lain. Fashion Gothic kemudian semakin menjalar dan menurun pada bentuk fashion lain, seperti Punk dan Emo.
Proses perkembangan Gothic dari sesuatu yang menakutkan menjadi sebuah literatur, film dan fashion menimbulkan suatu fenomena baru, yakni “Fear as Entertainment”, dimana hal menyeramkan justru dijadikan hiburan, seperti Dark Tourism yang menyuguhkan jalan-jalan atau plesir ke tempat-tempat mengerikan untuk memicu adrenalin dengan anggapan bahwa kita akan bertemu hantu. Adrenalin yang ditimbulkan akan memicu produksi ‘efek nagih’, sehingga industri dark tourism ini selalu diminati. Salah satu produk dark tourism yang kerap kita lihat di layar kaca adalah acara-acara uji nyali ataupun wisata angker. Uniknya, kadang acara-acara tersebut dilakukan di apartemen, hotel ataupun rumah nan megah, yang tidak berasosiasi dengan tempat tinggal hantu yang gelap, sunyi dan sepi. Dengan setting yang terus berubah-ubah, manusia diajarkan untuk memproses pikir tentang eksistensi hantu di wilayah yang bukan merupakan wilayah mereka sebenarnya, sehingga akan terasa lebih menyeramkan jika para hantu muncul di tempat yang tak seharusnya.
Yah begitulah dinamika si Gotik. Bermula dari arsitektur hingga kini merambah ke life style. Namun toh tak apa, mari kita saksikan ke mana arah dinamika ini ke depannya.. Salam. Sampai jumpa di diskusi bulanan HIMA berikutnya!
#GothicNowAndThen
#AllAboutGothic
#ArthefacTillFashionmyhome myhome3 read more

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA ESAI FESTIVAL ARKEOLOGI 2015

Setelah melalui proses penjurian yang panjang, maka panitia Lomba Esai Festival Arkeologi 2015 menyatakan dengan ini:

PEMENANG LOMBA ESAI FESTIVAL ARKEOLOGI TAHUN 2015 dengan tema “Pandangan Generasi Muda terhadap Sumberdaya Arkeologi” adalah

JUARA I a.n Rika Saputri A. dengan judul esai “Ketidakbergunaan Pelelangan Benda-benda Arkeologi”

JUARA II a.n Nathanael Michael Tedjo Kurniawan dengan judul esai “Peninggalan Sejarah di Masa Depan”

JUARA III a.n Naufal Fadhlurrohman dengan judul esai “Arkeologi Tonggak Revolusi Pemuda” read more