Universitas Gadjah Mada Himpunan Mahasiswa Arkeologi
Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Sejarah
  • Struktur
    • HIMA 06/07
    • HIMA 11/12
    • HIMA 14/15
    • HIMA 17/18
    • HIMA 18/19
    • HIMA 19/20
      • FILOSOFI
      • VISI MISI
    • HIMA 20/21
      • Filosofi dan Logo Kabinet
      • VISI MISI
    • HIMA 24/25
      • FILOSOFI DAN LOGO KABINET
      • VISI DAN MISI
  • Foto Kenangan
    • CKC / SKS
      • CKC 2000
      • SKS 2012
    • KKSA
      • KKSA XIII Candi Ijo 03
    • Abhiseka
      • Abhiseka 2006
      • Abhiseka Sukuh 04
      • Abhiseka 1997
      • Abhiseka 2019
      • Abhiseka 2022
      • Abihiseka 2023
  • Kegiatan HIMA
  • Artefak
    • Artefak 1984
    • Artefak 1985
    • Artefak 1986
    • Artefak 1987
      • Majalah Artefak 1987: No. 5/Januari/1987
      • Majalah Artefak 1987: No. 6/September/1987
    • Artefak 1988
    • Artefak 2014
    • Artefak 2016
    • Artefak 2017
    • Artefak 2021
    • Artefak 2022
    • Artefak 2023
  • Arkeologi UGM
  • Kontak
  • Beranda
  • HIMAPEDIA
  • [HIMAPEDIA] Mengenal Amir Sutaarga, Bapak Museum Indonesia

[HIMAPEDIA] Mengenal Amir Sutaarga, Bapak Museum Indonesia

  • HIMAPEDIA
  • 27 July 2020, 14.46
  • Oleh: HIMA UGM
  • 0
Potret Amir Sutaarga. Sumber : http://colonialarchitecture.eu/
Potret Amir Sutaarga. Sumber : http://colonialarchitecture.eu/

Nama Mohammad Amir Sutaarga memang tidak populer, namun siapa sangka putra kelahiran Rangkasbitung 5 Maret 1928 merupakan pioner permuseuman di Indonesia. Anak sulung dari pasangan M. Ilyas Sutaarga dan Siti Mariah ini sebenarnya bercita-cita menjadi ahli perkapalan dan ingin menempuh pendidikannya di Belanda. Namun Amir, demikian panggilannya gagal mewujudkan keinginan tersebut akibat adanya perang yang pecah pada 5 Maret 1942. Semasa bersekolah di Taman Madya Yogyakarta, ia pun akhirnya memutuskan untuk bergabung ke dalam dunia militer. Bersama Uka Tjandrasasmita, teman karibnya, Amir bergerilya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Berkat kecerdasannya, Amir muda ditugaskan pada bagian intelejen sebagai perwira penghubung dan pada tahun 1947 di usia 19 tahun telah menyandang pangkat kemiliteran Letnan Dua (Letda) dalam divisi Siliwangi.

Perkenalannya dengan dunia museum sebenarnya tidak disengaja sejak bertemu dengan van der Hoop, seorang ilmuwan yang bekerja di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Sekarang Museum Nasional). Kemudian Hoop memboyong Amir ke Jakarta untuk belajar ilmu etnologi. Selanjutnya di tahun 1952 Hoop mengangkat Amir menjadi redaktur penerbitan. Jabatan tersebut merupakan ‘pintu gerbang’ Amir dalam menggeluti sekaligus menekuni dunia Museum. Karir Amir terus menanjak, ia pernah menjabat sebagai sekretaris BGKW. Setelah Prof. Dr. Hoessain Djajadiningrat mengundurkan diri dari pemimpin BGKW, Amir ditunjuk untuk menggantikan posisi itu. Tugas yang diembannya memang tidak ringan, Amir harus mengelola museum BGKW secara mandiri tanpa ahli dan sokongan dana dari Belanda.

Amir juga pernah menerima beasiswa untuk belajar museum di Eropa Barat. Sepulangnya  dari eropa, Amir kembali menimba ilmu Antropologi di Universitas Indonesia pada 1958. Disela-sela kesibukannya tetap aktif dalam Lembaga Museum Nasional. Bersama R. Soekmono yang saat itu menjabat menjabat Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, ia  pun memperkenalkan kepurbakalaan dan permuseuman. Setelah Museum BGKW diserahkan kepada pemerintah pada tahun 1962, Amir diangkat menjadi Kepala Museum Pusat (Museum Nasional) dan setelah itu Amir menjabat sebagai Direktur Permuseuman.

Kiprah dan Kepakarannya dalam bidang permuseuman tidak diragukan lagi, Amir Sutaarga dikenal sebagai perintis dan pengembang Museologi Indonesia. Beberapa karya tulisannya berkaitan dengan museum, diantaranya : Capita Selekta Museografi dan Museologi (1964); Museum Etnografi : Perkembangan dan Fungsinya di Jaman Sekarang (1958); Museum dan Permuseuman di Indonesia (1968); Museum Problemen in Indonesia (1956); Persoalan Museum di Indonesia (1962); Pedoman Penyelenggaraan dan Pengelolaan Museum (1988); dan Studi Museologia (1991). Selain itu, Amir Sutaarga dikenal pula sebagai penerjemah buku dan novel berbahasa asing, keahliannya tersebut tidak terlepas dari ilmu yang ditularkan dari van der Hoop.

Salah satu keinginannya yang kini belum terwujud yakni mendirikan Akademi Museum untuk mendidik dan mengembangkan Museologi di Indonesia. Amir Sutaarga juga dikenal sebagai perintis berdirinya sejumlah Museum Negeri Provinsi, Museum Pemerintah Daerah dan museum milik pribadi. Ketika kunjungannya ke Paris tahun 1995, Amir meminta kepada UNESCO supaya mendatangkan tenaga ahli yang dapat membantu pengembangan Museum di Indonesia. Keinginan tersebut terealisasi dengan kehadiran Jhon Irwin, ahli museum dari Victoria & Albert Museum, London yang menyarankan agar dibuatkan sebuah Museum Nasional yang merepresentasikan keragaman Indonesia, membentuk dinas-dinas museum serta mengadakan pendidikan dan pelatihan kepada tenaga museum. Atas jasa-jasanya, Amir Sutaarga memperoleh anugerah “Life Time Achievement bidang permuseuman” pada tanggal 1 Juni 2012 dalam event Museum Award. Tepat satu tahun setelah menerima penghargaan, Amir Sutaarga pun wafat pada 1 Juni 2013 di Ciputat dan dimakamkan di Pandeglang, Banten.

Tulisan Karya:

M. Ikhsan Zulkarnain (Arkeologi 2019)

Editor:

Candrika Ilham Wijaya (Arkeologi 2019)

Hot Marangkup Tumpal (Arkeologi 2018)

Referensi

Trigangga (ed). 2014. Potret Museum Nasional Indonesia : Dulu, Kini & Akan Datang. Jakarta : Museum Nasional Indonesia.

Rosidi, Ajip. 2010. Mengenang hidup orang lain: sejumlah obituari. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.

Asosiasi Museum Indonesia. OBITUARI MOH. AMIR SUTAARGA. Diakses dari http://www.asosiasimuseumindonesia.org/2-single-articles/387-obituari-muh-amir-sutaarga.html

Museum Nasional Indonesia. 2016. M. Amir Sutaarga: Bapak Permuseuman Indonesia. Diakses dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/munas/m-amir-sutaarga-bapak-permuseuman-indonesia/

Pribadi, Sigit Eka. 2019.  Berkat Amir Sutaarga, Museum Tak akan Lekang oleh Waktu. Diakses dari https://www.kompasiana.com/sigit19781986/5d1e0e460d82302da8678e47/berkat-amir-sutaarga-museum-tak-akan-lekang-oleh-waktu

Susantio, Djulianto. 2012. Moh. Amir Sutaarga, Kamus Hidup Permuseuman. Diakses dari https://museumku.wordpress.com/2012/09/14/moh-amir-sutaarga-kamus-hidup-permuseuman/

Susantio, Djulianto. 2016. Mengenang Bapak Permuseuman Indonesia, Moh Amir Sutaarga. Diakses dari https://www.kompasiana.com/djuliantosusantio/57fdb8f3bb9373043af98bce/mengenang-bapak-permuseuman-indonesia-moh-amir-sutaarga?page=all

Seminar Tokoh Permuseuman, Moh Amir Sutaarga oleh Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) pada HUT KPBMI ke-2 tanggal 09 Maret 2019.

Tags: #museum #bapakmuseum

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Universitas Gadjah Mada

Himpunan Mahasiswa Arkeologi

Departemen Arkeologi

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Gadjah Mada

 

 

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY